STUPID IN LOVE

stupid-in-love-4-1

STUPID IN LOVE

Author             : Gazehayu
Main Casts      :

  • Kim Seokjin of BTS as Jin
  • Kang Jihyun (Soyou) of Sistar as Soyou

Rating             : PG-15
Length             : Oneshot
Genre              : Songfic, Sad Romance, Angst
Disclaimer       :
Annyeong, chingudeul^^
Ini posting pertama author dengan ff songfic pertama author berjudul “Stupid In Love” yang dinyanyikan oleh Soyou x Mad Clown di tahun 2013 😀 Kenapa author pilih lagu ini? Karena author suka sama lagunya dan penjiwaan keduanya pas nyanyi bagus banget. Dan thanks to Songrieunnike (https://unlimitedstories.wordpress.com/) untuk posternya yang daebak 😀 Well, tanpa banyak bicara, check it out J

All the casts are belong to God, family, management, and YOU as their fans. I just own the storyline, inspirated from a song with title ‘Stupid In Love’ by Soyou x Mad Clown.

Last but not least, Happy reading 😀

.

.

.

.

.

Summary :

‘Aku selalu salah dan kamu selalu benar.’

‘Aku hanya ingin kamu memelukku.’

Soyou’s Side

All Author POV

Ruangan itu gelap. Memancarkan cahaya kesedihan yang redup. Suasana itu tenang. Sunyi. Terlalu sunyi. Tidak ada isak tangis, tidak ada suara seseorang yang terus memanggil nama satu orang. Terlalu sunyi untuk ukuran yeoja yang baru saja mengakhiri hubungan dengan kekasihnya. Atau lebih tepatnya, mantan kekasihnya. Ya, mereka telah mengikrarkan ketidaksanggupan mereka menjalani hubungan, 24 jam yang lalu.

Namun, kamar yeoja bernama lengkap Kang Jihyun, atau biasa dipanggil Soyou itu, terlalu sunyi. Sunyi yang aneh, membuat siapapun yang melewati kamar apartmentnya akan bertanya-tanya. Bukankah dia baru saja putus? Tak adakah isak tangis? Tangis rindu, tangis penyesalan, atau apapun itu? Kenapa selalu sunyi seharian ini? Dan dia bahkan tak mengeluarkan suara sekecil apapun? Apakah dia tidak merasa sedih? Atau mungkin dia sedang tidur dan bangun kesiangan seperti biasanya?

Salah. Anggapan orang-orang itu salah. Sangat bohong kalau Soyou tidak bersedih atas apa yang telah menimpanya. Hubungan yang telah dijalaninya dengan namjachingunya harus kandas di tengah jalan. Siapa yang tidak sedih? Apakah kesedihan harus digambarkan dan diekspresikan dengan air mata? Tidak. Terkadang air mata tidak bisa mewakili kesedihan, karena kesedihan tak terkira yang dialami. Itulah yang yeoja itu rasakan sekarang.

Terbaring di tempat tidurnya yang berukuran king size, mengenakan kemeja putih panjang, dia terus menenggelamkan diri. Menenggelamkan diri dalam kesedihan yang membuatnya lupa bahwa dia masih punya kehidupan. Soyou merasa mati semenjak 24 jam yang lalu. Semenjak pernyataan yang menyakitkan itu keluar dari mulut kekasihnya. “Lebih baik kita akhiri saja ini semua. Aku lelah harus seperti ini terus. Bertengkar. Itu membuatku lelah. Masih banyak hal yang harus aku urus dari pada dirimu yang manja.”, begitu kata kekasihnya. Kata-kata itu membuatnya tertohok, seolah vonis kematiannya sudah ditentukan saat itu. Ingin dia menolak keputusan itu. Dia masih mencintai namja itu. Namun di sisi lain, dia tak bisa memungkiri dia juga lelah.

Mengingat itu membuatnya ingin menangis. Entah sudah berapa gulung tissue yang sudah dia habiskan sejak kemarin. Yeoja itu tak bisa menangis lagi, bukan berarti dia tidak sedih. Dia tahu, ini semua kesalahannya. Selalu ingin diperhatikan, selalu ingin dimanja tanpa memperdulikan keadaan namjachingunya itu. Dan dengan bangganya dia mengakui dirinya telah memberi perhatian pada mantan namjachingunya itu. Sekarang dia sadar, itu semua NOL besar.

Dia bangkit terduduk di pinggir ranjangnya. Memandang sendu ke arah langit yang menggelap. Membuat seisi ruangan redup, namun justru membuat hatinya tidak redup. Bagaimana bisa lebih redup lagi? Dia sungguh merasa bodoh. Tanpa sadar dia melakukan kesalahan – kesalahan itu. Dan merasa dirinya selalu benar. Dan sekarang, dosa-dosa kotor itu terpampang jelas di hadapannya. Menguak lebar-lebar kenyataan bahwa dia adalah manusia yang bodoh.

Malam itu dingin. Taman itu sepi, hanya ada 1 – 2 orang saja yang berada di situ. Ahjussi petugas kebersihan itu sedang kelelahan membersihkan salju yang menumpuk. Di taman itu, sepasang kekasih sedang bertengkar, hanya karena perjanjian mereka mundur 15 menit dari yang seharusnya karena mobil namja itu mogok di pinggir jalan.

Soyou, si yeoja, merasa sangat marah. Baginya, waktu 15 menit sekalipun tidak boleh terlewatkan. Dan setelah menunggu 15 menit lebih lama, namjachingunya pun datang.

“Chagi, mian…”, ucapan namja itu terputus ketika mendapat tatapan dingin dari Soyou.

“Kau terlambat 15 menit. Apa lagi alasanmu?”, tanya Soyou ketus.

“Mobilku mogok di pinggir jalan. Mian.”, jawab Jin, si namjachingu. Kentara sekali dari nafasnya yang terengah – engah bahwa dia berjalan, atau mungkin berlari, menuju tempat itu.

“Cih, alasan! Kau selalu saja seperti itu! Tak tahukah kamu, aku menunggu 15 menit di sini dan kedinginan?! Eoh?!”, tanya Soyou. Nafas Jin masih terengah – engah. Udara malam itu sangat dingin, membuat nafasnya menjadi lebih sulit.

“Mi..mianhae..”, hanya itu yang mampu keluar dari mulut Jin yang mengeluarkan asap. ‘Tak tahukah kamu aku harus berlari sejauh 2km ke sini karena tidak ada angkutan menuju tempat ini?’, batin Jin kesal.

“Mianhae? Selalu seperti itu. Selalu saja meminta maaf tapi tak pernah ada perubahan. Apakah kau mencintaiku? Kalau tidak, kita putus saja! Aku muak dengan namjachingu sepertimu!”, bentak Soyou.

‘Oke, ini sudah keterlaluan.’

“Kalau itu maumu, baiklah. Lebih baik kita akhiri saja ini semua. Aku lelah harus seperti ini terus. Bertengkar. Itu membuatku lelah. Masih banyak hal yang harus aku urus dari pada dirimu yang manja.”, ucap Jin tegas.

Soyou terkesiap dengan kalimat Jin barusan. Sebenarnya dia tidak serius mengucapkan kata ‘putus’ itu. Dia hanya ingin Jin memohon minta maaf, dan memeluknya karena dia butuh kehangatan.

“Apa… kau serius, chagi?”, tanya Soyou dengan suara bergetar. Entah karena dingin atau menahan tangis.

“Ne, aku serius. Aku tidak tahan dengan dirimu.”, ucap Jin dengan suara bergetar pula. Entah karena dingin atau menahan emosi.

“Kenapa kau mengeluarkan kata-kata itu? Aku hanya ingin…”
“Apa lagi yang kamu inginkan? Tidak cukupkah apa yang telah kuberikan? Waktu, tenaga, barang-barang? Bahkan aku merelakan diri menjadi manusia anti-sosial, menjauh dari teman – temanku hanya karena kamu menginginkan aku selalu hadir! Selalu dalam artian setiap saat! Kamu mencuri waktuku bersama teman-temanku, keluargaku! Apa lagi yang kurang?!”

Mendengar bentakan dari namjachingunya itu membuatnya mengeluarkan air mata. Yeoja mana yang tidak menangis dibentak secara kasar oleh namjachingunya sendiri? Sementara dia masih memandangmu penuh amarah.

“Kamu jahat! Aku benci kamu! Manusia kasar! Bodoh! Tidak gentle! Berani kasar pada yeoja! Namja macam apa kamu?!”, maki Soyou.

“Ooh, aku memang jahat! Aku memang salah! Aku selalu salah! Coba kau hitung, apakah aku pernah benar dimatamu?! Setiap kali bertengkar, selalu aku yang salah! Aku yang minta maaf, meskipun jika dipikir dengan logika, aku hanyalah pelampiasan kekesalanmu! Lagi-lagi dengan bodohnya aku mengalah dan mengatakan bahwa aku tidak berguna dan itu semua salahku!! Iya kan?!”, balas Jin, sang namjachingu.

Mendengar itu, hati Soyou terluka. Terluka karena ucapan penuh amarah itu dan juga terluka karena hati kecilnya setuju dengan apa yang dikatakan namja di hadapannya itu.

“Aku selalu mengalah…. Ketika kita bertengkar, aku selalu mengalah…. Hanya agar kamu tenang dan tidak emosi…. Tapi, di lain kesempatan kamu berkata aku tidak pernah mengalah. Sakit rasanya! Siapa yang salah?! Aku?!”, bentak Jin. Sepertinya emosinya sudah sampai di ubun – ubun.

Dan Jin pun pergi. Meninggalkan Soyou yang terisak sendirian di taman itu. Malam menggelap. Udara mendingin. Salju pun turun lagi. Soyou menangis, dan punggung namja itu menjauh dan tidak akan berbalik lagi.

Mengingat itu membuat perempuan itu menangis lagi. ‘Aku yang salah…. Aku….’

Sekarang yeoja itu berdiri, berjalan menuju balkon di kamarnya. Melihat langit yang perlahan menurunkan butiran saljunya, namun yeoja itu tidak peduli. Dia tidak peduli tubuhnya menjadi kedinginan, menggigil, lalu demam. Hanya satu yang Soyou inginkan

‘Aku ingin waktu berulang dan memperbaiki semuanya’

Namun satu yang dia tahu. Hal itu mustahil terjadi.

Butiran salju itu meningkatkan intensitasnya menjadi hujan salju. Tangis itu tak kunjung keluar dari bola matanya. Soyou terlalu sedih untuk melakukan hal remeh seperti menangis. Dia tidak bisa menangis lagi. Dia telah mati.

Pintu itu terbuka, dan seseorang masuk. Memandangnya penuh kebencian dan amarah. Namja itu mendekat padanya dan mengatakan “Kita putus!”. Yeoja itu merunduk. Kalimat itu terulang lagi. 2 kali, 3 kali, 5 kali. Sampai tak terhitung jumlahnya. Yeoja itu berteriak, menutup telinganya erat-erat berusaha mencegah kalimat itu memasuki indra pendengarannya. Lututnya tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Tubuh lemasnya bersandar pada pagar balkon dan kepalanya menunduk, masih menutupi telinganya. Lalu, namja itu menghilang seiring hembusan angin itu. Namun kalimat itu masih terngiang-ngiang di kepalanya. Dan akhirnya tangis itu pecah. Tangis yang membawanya pada kenyataan yang pahit. Salju menghujani tubuhnya. Air mata membasahi hatinya. Namun, kalimat itu membakar seluruh jiwanya. Dan Soyou terduduk di balkonnya. Di tengah hujan salju. Menangis. Sendirian. Tanpa ada yang tahu.

‘Apa kau tak melihat air mata ini? Kita tidak perlu berakhir seperti ini. Aku hanya ingin kamu memelukku.’

‘Aah, bodohnya aku. Aku tidak pantas untuk mendapat pelukan darimu.’

‘Sungguh, aku memang bodoh….’

Jin’s Side

Author POV

Tak terhitung berapa banyak barang yang sudah dia lemparkan sembarang arah. Kamar bercat merah dan hitam dengan warna barang – barangnya yang senada itu tampak berantakan. Seperti kapal pecah, orang bilang. Namja itu tidak peduli lagi seperti apa rupa kamarnya dan apa reaksi eommanya kalau mengetahui kamar anak laki – lakinya itu sekacau ini.

Kamar itu terlalu riuh sejak 24 jam yang lalu. Bahkan eomma dan appanya sudah mengetuk pintu kamarnya dan hanya dia jawab dengan, “Gwaenchana. Aku hanya butuh waktu untuk sendiri.”, dan mereka memaklumi itu. Namja itu tidak berteriak ataupun mengeluarkan suara apapun selain barang – barang yang dia lempar. Terkadang, emosi yang teramat sangat bisa membuat bibir jadi kelu untuk sekedar membuka dan berteriak.

Appa dan eomma tampak khawatir dengan kondisi anak semata wayang mereka, Kim Seok Jin. Dia terdengar sangat emosi, bahkan stress mendekati gila. Sejak 24 jam yang lalu, Jin tampak seperti orang yang mabuk atau semacamnya karena dia terus mengurung diri dan melempar barang – barang di kamarnya.

Salah. Anggapan mereka salah. Jin masih waras meskipun, ya, dia sedang sangat marah. Amarah dan emosi yang dia pendam selama masih menjalani hubungan dengan Kang Jihyun atau Soyou, kekasihnya. Dia harus berulang kali memendam emosi, memendam ego hanya agar pertengkaran mereka tidak berlarut – larut. Namun sekarang, ini sudah cukup baginya. Dia tidak sanggup menahan emosinya lebih lama lagi.

Seorang Kim Seokjin yang penyabar dan tidak mudah marah, kini dia marah setelah sekian tahun tidak melakukannya. Dan penyebabnya adalah Soyou, mantan yeojachingunya.

Jin berjalan mondar – mandir mengelilingi kamarnya. Sprei berwarna merah itu sudah tidak karuan bentuknya. Jatuh dari tempat tidur dan kusut masai bentuknya. Bantal dan guling sudah tidak berada di tempatnya dengan benar. Lantai itu penuh buku yang berserakan, beberapa di antaranya bahkan lepas dari sampul depannya. Tempat sampah itu penuh dengan barang – barang pemberian mantan kekasihnya, beberapa di antaranya adalah foto yang bingkai dan kacanya sudah rusak.

Sekilas dia melihat foto itu. Dia ingat moment foto itu, ketika Soyou ingin ditemani jalan – jalan ke mall. Yeoja itu terus meminta dan merajuk padanya, padahal yeoja itu tahu kalau Jin, kekasihnya, sedang berada di ruang latihan bersama member BTS yang lainnya. Namun, Soyou seolah tidak peduli dan terus meminta Jin untuk menemaninya.

“Ne, tapi nanti ya? Aku sedang…”

“Sekarang, chagi. Aku ingin belanja itu sekarang, bukan nanti.”, ucapan Jin terpotong oleh kalimat Soyou. Jin mendesah nafas, berusaha mengontrol emosinya.

“Ne, ne. Kalau begitu, tunggu aku.”, lalu Jin menutup telepon dan bergegas pergi, dengan alasan kalau dia ingin ke toilet.

Jin mendengus kesal mengingat hal itu. ‘Cih, bahkan kau tidak memberiku kesempatan untuk bergaul dengan chinguku.’, batin Jin. Dan, Jin pikir barang – barang itu akan berakhir di tempat penimbunan atau semacamnya.

“Chagi, belikan aku itu.”, pinta Soyou dengan manjanya sambil menunjuk ke arah sebuah tas, yang kalau dilihat dari modelnya, tas itu sangat bagus dan mahal. Soyou terus merajuk dan mengeluarkan jurus aegyo nya. Jin, yang memang sangat menyayangi yeojachingunya itu, melihat isi dompetnya.

‘Ah, harga tas itu akan menguras separuh isi dompetku. Tapi, tidak apalah.’

“Ne, akan aku belikan.”, ucap Jin. Soyou tersenyum kesenangan. Dan selama 3 minggu, Jin harus menghemat pengeluarannya.

‘Bahkan kamu tidak pernah menghargai pengorbananku.’, batin Jin. Mengingat itu semua mengingat Jin ingin melemparkan sesuatu lagi. Dan remote AC yang berada di dekatnya pun menjadi sasaran kekesalannya.

Dia berjalan menuju balkonnya. Melihat awan mendung gelap yang meredupi semua cahaya yang masuk ke retina matanya. Hawa dingin itu terasa menusuk tubuhnya, padahal dia sudah mengenakan sweater putih. Hembusan asap itu keluar dari mulutnya. Dilanda kedinginan membuatnya pantang untuk beranjak dari tempat itu. Entah kenapa, tempat ini selalu menjadi tempat favoritnya.

Sekilas, dia mengingat sesuatu. Di sini, di balkon ini, dia dan mantan yeojachingunya itu pernah terlibat sebuah percakapan, dengan cahaya bulan dan bintang sebagai saksinya.

“Apa kamu mencintaiku?”, tanya Jin. Soyou menghadap kekasihnya dengan heran. Untuk apa dia menanyakan hal seperti itu?

“Ne, tentu saja aku mencintaimu. Untuk apa kamu menanyakan itu?”, tanya Soyou heran.

“Maukah kamu berjanji satu hal padaku?”, tanya Jin. Soyou memandang heran namjachingu nya yang duduk di sebelah kanannya itu.

“Tentu. Berjanji apa?”, tanya Soyou.

“Untuk selalu bersamaku. Dalam keadaan apapun, susah senang, dan hidup bahagia selamanya.”, ucap Jin dan dia mengeluarkan sekotak cincin. Soyou terkaget karenanya. Meskipun tempat ini jauh dari kata romantis, namun tetap saja dia senang. Dan dia pun mengangguk sebagai jawaban.

Lalu, Jin memakaikan cincin itu ke jari manis tangan kanan Soyou. Getaran itu mulai terasa. Hatinya bergetar, mengirimkan sinyal kepada otaknya kalau getaran itu tidak bisa ditahan lagi. Dan dia menangis.

‘Huh, time’s changed. People changed.’, dengus Jin ketika mengingat hal itu. Sejak saat itu, tingkah Soyou menjadi sangat menyebalkan dan itu membuat Jin muak. Segala hal telah dia korbankan untuk Soyou. Namun apa yang dia dapatkan? Tidak ada. Hanya sifat manja dan kekanak – kanakkan.

Hanya sesuatu sederhana itu yang dia butuhkan. Rasa dihargai dan disayangi, apa susah? Kenapa pengorbanannya tidak pernah dihargai? Kenapa dia selalu meminta lebih? Kenapa segala sesuatu yang telah dia berikan dianggap angin lalu olehnya? Seolah butiran pasir pantai yang terhembus angina atau terhanyut bersama ombak, tidak berbekas? Maka jangan salahkan dia kalau emosinya sudah memuncak.

Dia meremas rambutnya. Amarah kembali melandanya. Semua karena yeoja itu. Yeoja yang, ah entahlah, Jin sendiri tidak tahu kata apa yang pantas untuk menggambarkan sifat yeoja itu? Manja? Keterlaluan? Entahlah. Yang jelas dia tidak bisa, dan tidak mungkin, bertahan lebih lama lagi. Hatinya lelah. Dirinya muak. Dia ingin sebuah kebebasan.

Jin teringat lagi apa yang terjadi pada mereka berdua, 24 jam yang lalu….

“….selalu aku yang salah! Aku yang minta maaf, meskipun jika dipikir dengan logika, aku hanyalah pelampiasan kekesalanmu! Lagi-lagi dengan bodohnya aku mengalah dan mengatakan bahwa aku tidak berguna dan itu semua salahku!! Iya kan?!”

Dia sama sekali tidak melebih – lebihkan. Itulah yang terjadi. Menjadi pelampiasan sangatlah tidak mengenakkan. Dan lagi, pada akhirnya dia ‘harus’ mengakui kalau dia salah dan meminta maaf pada yeoja itu, padahal itu bukanlah kesalahannya. Dia tak ubahnya seperti boneka.

‘Huh, bodoh sekali aku!’

Dan setelah kejadian malam itu, dirinya baru sadar dia telah dibodohi oleh ‘cinta’. Tidak ada cinta yang memaksa. Tidak ada cinta yang melampiaskan amarah. Tidak ada cinta yang sabar kalau terus disakiti, bahkan kalau yang disakiti itu seorang namja. Kim Seokjin sudah lelah. Hawa dingin semakin menusuk tubuhnya, namun dia tidak bergeming dari tempatnya. Membiarkan hembusan angin menenangkannya, walau hanya untuk sesaat.

Lalu dia beranjak masuk ke kamarnya, mengambil sesuatu di laci mejanya. Kotak merah yang seharusnya berisi cincin itu berisi kosong. Isinya masih berada di jari manis Soyou. Lalu, Jin kembali ke balkon kamarnya dan melempar kotak itu jauh – jauh.

‘Good bye, past.’

Jin merasa tidak sendirian di kamarnya itu. Sekilas, dia melihat sosok yeoja yang berdiri membelakanginya, menghadap cermin besar di kamarnya. Jin menghampiri yeoja berambut panjang sebahu itu. Dari pantulan bayangannya di cermin, Jin mengenal yeoja itu. Dia Kang Jihyun, mantan yeojachingunya.

Soyou berbalik menghadap Jin, memperlihatkan wajah yang terlihat lebih tirus dan mata yang sembab. Dadanya naik turun dan bahunya bergetar. Tangan kanannya menjulur ke arah Jin. Mulutnya mengucapkan sesuatu di sela isakan tangisnya.

“M..mianhe… Jin-ah. Tolong…. maafkan aku.”, ucap Soyou di sela isak tangisnya. Jin menatap Soyou tanpa ada rasa kasihan. Hatinya membeku. Dia tidak bisa memaafkan yeoja itu, yang telah memaanfaatkan dirinya, dengan mudah. Hatinya tidak akan semudah itu untuk menerima permintaan maaf yeoja di hadapannya itu.

“Aku tidak bisa memaafkanmu.”, ucap Jin. Tangan kanan Soyou yang tadinya terulur sedikit turun. Air muka itu semakin sendu. Namun, kesenduan suasana hati yeoja itu tidak mengundang rasa kasihan pada Jin. Entahlah, mungkin hatinya telah mati untuk yeoja ini.

“Silahkan kamu pergi dari sini.”, usir Jin. Soyou menatap Jin tidak percaya. Kaca – kaca itu kembali muncul di wajahnya. Air muka itu tampak kecewa, sedih, dan segala macam emosi yang dapat merangsang air mata untuk mengeluarkan dirinya tampak nyata di wajah yeoja cantik itu. Kedua tangannya terjulur ke arah Jin.

“Mianhae, Jin-ah….”

“Mianhae, Jin-ah….”

“Mianhae, Jin-ah….”

Jin merunduk, menutup mata dan telinganya. Suara itu merasuk ke dalam kepalanya. Terngiang di otaknya. Soyou belum juga beranjak pergi, masih berekspresi dan mengucapkan kalimat yang sama. Kepala Jin dibuat serasa pecah. Dan….

“PERGI!!”

…. cermin itu pecah seiring dengan gunting yang dilemparkan ke arahnya. Dan seiring itu juga, sosok Soyou menghilang tertiup angin. Kali ini, Jin biarkan amarah menguap. Biarkan hati menenangkan dirinya agar tidak ada bayang – bayang masa lalu mengganggunya, membiarkan masa lalu itu berdiam di sudut ruang hatinya dan tidak akan pernah dia ganggu. Agar masa lalu itu tidak mendatangi dan meminta maaf kepadanya. Dia muak pada permintaan maaf.

Dia memandang ke sekitar dan baru menyadari betapa berantakan kamarnya. Tubuhnya tergerak untuk merapikan kamarnya, dan juga membersihkan serpihan cermin yang menjadi korban amarahnya. Pandangannya teralih ke tempat sampah, tempat semua ‘kenangan yang diabadikan’ bersama Soyou berakhir. Dia mengambil tempat sampah itu dan berjalan menuju tempat sampah di depan rumahnya dan membuang ‘kenangan yang diabadikan’ itu.

‘Selamat tinggal, wahai kenangan.’

*****

Seoul, Januari 2015. 15.00 KST

Salju turun tidak begitu deras. Setidaknya cukup nyaman untuk seorang Kim Seokjin bersantai di taman ditemani dengan cappucino favoritnya. Memandangi butiran – butiran salju yang menumpuk di atas tanah adalah salah satu kegiatan favoritnya, meskipun kebanyakan orang lebih memilih untuk menghangatkan diri di rumah. Terkecuali namja satu itu. Dia lebih menikmati sensasi dingin yang menusuk kulit daripada merasakan hangatnya api dari tungku.

“Jin-ssi.”
Tiba – tiba, sebuah suara yeoja memanggilnya dari arah samping kiri. Jin menoleh dan mendapati Soyou berdiri memandangnya beberapa meter jauhnya. Dia memegang sebuah paying transparan di tangan kanannya dan segelas espresso di tangan kirinya. Sejak mengakhiri hubungannya dengan Jin satu tahun yang lalu, yeoja itu lebih memilih espresso ketimbang cappucino, padahal dulu dia sangat suka cappucino. Jin hanya memandang yeoja itu dengan datar.

“Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Bisa aku berbicara denganmu? Sebentar?”, tanya Soyou dengan suara pelan. Dia masih ingat betul kejadian satu tahun yang lalu. Di taman inilah mereka mengikrarkan akhir hubungan mereka. Jin sama sekali tidak menanggapi ucapan Soyou, hanya memandangi yeoja itu dengan datar.

“Aku ingin meminta maaf padamu. Mianhae, aku tahu aku terlalu memaksa. Terlalu egois. Aku yeoja yang buruk. Mianhae. Jeongmal mianhae.”, ucap Soyou. Suara itu bergetar. Yeoja itu berusaha menahan tangisnya. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan Jin. Dia ingin tampil tegar di hadapan namja itu.

Jin bangkit berdiri dan berjalan mendekati Soyou. “Lalu?”, hanya itu tanggapan singkat dari Jin. Dia memandangi yeoja itu dengan tatapan yang menyiratkan ketidaksukaan yang mendalam pada yeoja di hadapannya itu.

“Aku bodoh. Aku baru sadar aku salah. Aku…. tidak pernah menghargai apa yang telah kamu lakukan untukku. Aku…. mianhae. Maafkan aku.”, Soyou kehilangan kata – katanya seiring dengan mendung yang melanda hatinya. Dia ingat penyesalannya, bagaimana dia terlalu manja dan memanfaatkan cinta dan pengorbanan dari Jin.

Dan Jin juga mengingat itu. Ketika dia selalu berkorban, tapi tidak pernah dihargai. Ketika dia selalu menjadi pelampiasan amarah yeoja di hadapannya itu. Ketika dia tidak pernah dimengerti oleh yeoja di hadapannya itu. Meskipun namja tidak pernah meminta itu, namun bukan berarti mereka tidak membutuhkannya. Dan ketika dia selalu salah dan yeoja di hadapannya itu selalu benar.

“Ada lagi?”, tanya Jin.

“A..ani… aku hanya ingin mengucapkan itu.”, ucap Soyou dengan terbata – bata. Bibirnya kelu seiring dengan dinginnya udara luar. Salju turun semakin deras.

“Tidak akan semudah itu, Jihyun-ssi.”
Dan, selesai sudah. Sebuah kalimat pendek dari seorang Kim Seokjin menutup percakapan mereka. Hati Soyou tertohok mendengar kalimat itu. Dia tahu dia memang salah. Salah besar yang fatal akibatnya. Dia terlalu ‘menggenggam’ Jin selama 2 tahun mereka menjalin hubungan. Wajar Jin merasa lelah. Dan dia harus rela kehilangan apa yang telah dia ‘genggam’ terlalu erat.

Jin berjalan meninggalkan Soyou. Seorang Kim Seokjin yang ramah dan murah senyum telah berubah, hanya kepada Kang Jihyun. Perasaan cinta yang begitu mendalam 3 tahun lalu telah bertransformasi menjadi benci yang juga sama dalamnya. Dia tidak peduli lagi pada yeoja itu. Dan karena benci itu begitu mendalam, maka lebih baik menjauh daripada menyakiti lebih jauh.

Air mata Soyou tak tertahankan lagi melihat punggung Jin yang berjalan menjauhinya. Ini kedua kalinya dia melihat punggung namja itu menjauh. Rasanya sama sakitnya dengan yang pertama. Dia terbiasa dengan kaki yang berlari mendekat ke arahnya selama 2 tahun, bukan kaki yang berjalan menjauhinya.

Jin berjalan dengan langkah yang tenang menjauhi taman itu. Dia siap dan ingin melepas masa lalunya. Dia berjalan mantap meninggalkan taman itu. Dia berjalan mantap, menatap ke depan, dan hatinya telah mantap meninggalkan yeoja itu. Meninggalkan hubungan itu. Sebuah hubungan yang tidak sehat untuk dilanjutkan, jika di dalamnya hanya ada pertengkaran. Hubungan itulah yang dia jalani selama 2 tahun bersama Kang Jihyun.

Payung yeoja itu telah terjatuh ke tanah. Hujan salju membasahi mereka, menjadi saksi dari perpisahan dua anak manusia bernama Kim Seokjin dan Kang Jihyun.

END

Annyeong, author kembali hehe 😀
Gimana menurut kalian ff nya? Kayaknya ff ini agak lebay ya L Mian ne, kalo jelek L
Tanpa banyak bicara karena author lagi males ngomong panjang – panjang, apakah kalian bersedia untuk berkomentar? ^^

Wind & Hope

Kubiarkan angin menghembuskan dedaunan kering di pohon yang telah mati

Kubiarkan angin menghapus jejak langkah yang kau buat, di samping jejak langkahku

Namun, tak akan kubiarkan angin menghapus kehadiran senyummu…..

Namun, aku tak sanggup…..

Karena Tuhan berkata lain….

 

Jakarta, 3 September 2014

Seorang laki – laki duduk sendirian di tengah taman pemakaman itu. Melihat seorang yang sangat dicintainya bersemayam di dalam gundukan tanah. Gundukan itu tampak cantik, dengan keramik putih menghiasi pinggirnya, dan juga bunga melati yang baru saja ditaburkan lelaki itu. Melati itu tidak dibeli, melainkan lelaki itu memetiknya dari halaman rumahnya sendiri. Kenapa kamu pergi secepat ini, Michelle? Pikirnya sedih. Teringat olehnya kenangan 6 bulan yang lalu, ketika dirinya menjanjikan kembali ke Jakarta secepatnya. Dan kenangannya melangkah 22 minggu setelahnya, atau lebih tepatnya 2 minggu yang lalu, ketika dirinya mendapat kabar bahwa Michele masuk rumah sakit karena kecelakaan. Terdapat pendarahan parah di kepalanya dan selama 2 minggu itu dia koma. Dan selama 2 minggu itu juga, laki-laki yang bernama Josh itu menemaninya di rumah sakit.

‘Apa aku terlalu terlambat?’ pikirnya ‘Aah, andai saja aku bisa kembali lebih cepat, mungkin ini tidak akan terjadi!’

Lagi, dia menyalahkan dirinya. Lagi, semuanya berakhir dengan tangis. Tangis yang mengiris hati seseorang yang merindukan kekasihnya, namun semuanya harus berakhir tidak sesuai harapan. Jason terus menangis, namun dia tidak peduli. Tidak peduli ada orang yang melihatnya, tidak peduli pada angin yang terus berhembus kencang, seolah angin itu marah dan berkata “Ini semua salahmu!”. Dia tidak peduli apapun lagi, kecuali satu. Seiring tangis yang tiada henti semenjak seminggu yang lalu, dirinya selalu berharap.

Tuhan, hanya satu permintaanku. Aku harap Michelle kembali. Apa terlalu rumit?

 

Jakarta, Juni 2008

Michelle Kim, seorang blasteran Korea-Amerika yang merupakan murid pindahan di sebuah SMA di Jakarta. Cantik mempesona. Rambutnya hitam panjang. Matanya cokelat muda memancarkan kehangatan. Sifatnya yang ceria dan ramah membuatnya langsung disukai dan banyak teman, meskipun dia sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia, namun dia menguasai Bahasa Inggris dengan lancar. Itulah yang membuat dia tidak kesulitan berkomunikasi dengan siapapun.

Adalah Jason, seorang kapten tim Karate di sekolah yang sama dengan Michelle. Digilai perempuan dan tidak sedikit yang terang-terangan menyatakan cinta padanya, namun dia tolak secara halus tentunya. Bukannya tidak suka, dia hanya memilih yang terbaik untuknya. Namun, perhatiannya tertuju pada satu gadis untuk saat ini. Gadis yang kehadirannya sudah menghipnotis seluruh murid laki-laki di sekolah ini, tak terkecuali dirinya. Gadis itu adalah Michelle.

Dan dia makin terkejut ketika ternyata kelasnya kedapatan murid baru. Suatu hari, di tengah pelajaran Sejarah yang membosankan baginya, wali kelasnya masuk hendak memberi pengumuman. Tentu saja, guru Sejarah yang sedang asyik menerangkan meskipun dia tidak sadar seluruh muridnya mengantuk, mengalah dan duduk di kursi guru.

“Anak – anak, hari ini kita kedatangan murid baru.”, ujar Pak Hadi, wali kelas XII IPS A

Seluruh murid langsung terbangun dan terkesiap. Berita soal kedatangan murid baru memang selalu mengundang antusias murid-murid lama. Apakah muridnya tampan? Cantik? Baik? Pintar? Itulah yang ada di pikiran murid-murid kelas XII IPS A sekarang. Tak terkecuali Jason. Dia juga antusias mendengar ada murid baru yang akan masuk.

“Okay, please come in!”, ujar Pak Hadi. Dan dari pintu masuk, melangkahlah seorang gadis cantik, ah bukan, gadis yang amat cantik. Tentu, semua mata tertuju padanya. Beberapa pandangan jatuh cinta, ada juga tatapan iri dan sinis dari murid perempuan.

“Could you introduce yourself, please?”, ucap Pak Hadi sambil tersenyum ramah pada murid baru itu.

“Ah, ne. Hello, my name is Michelle Kim. You can call me Michelle. I’m a Korean. Bangapseumnida.”, ujarnya sambil membungkuk ke arah kami.

“Okay, Michelle. Please take your seat.”, ujar Pak Hadi sambil menunjuk ke kursi kosong di sebelah Jason. “Thank you, Sir.”, ujar Michelle lalu melangkah ke tempat duduk di samping Jason. Kontan saja Jason menjadi gugup. Dia jatuh cinta pada gadis itu pada pandangan pertama.

‘Dia cantik sekali. Apa wajahku memerah? Apa aku terlihat gugup? Ahh ku harap tidak begitu’ pikirnya.

“Hey, gwaenchana? Are you okay?”, ujar seseorang di samping Jason. Michelle, yang sedari tadi membereskan beberapa barangnya, memperhatikan Jason heran. Karena dia hanya mematung dan sepertinya tidak sadar bel istirahat sudah berbunyi.

“M-me? Oh… I-I’m okay.”, jawab Jason gugup.

“Ah, ne. My name is Michelle. What’s your name?”, Tanya Michelle sambil menjulurkan tangan. Yang diajak bersalaman hanya memandangi tangan itu tanpa menyambutnya. Michelle menunggu keheranan. “What’s your name?”, Tanya Michelle sekali lagi. Tersadar dari lamunannya, Jason menyambut uluran tangan itu dan menjawab “M-my name is Jason.”, ujarnya. Tangannya halus, wajahnya cantik, rambutnya panjang tergerai. Perfect!

“Jason, could you please explain to me about that History lesson? You know I’m new here and you know it’s impossible for me to understand about Indonesia’s history so fast. Could you tell me a little about Indonesia?”, pinta Michelle pada Jason. Jason, yang sudah berhasil menguasai diri, langsung tersenyum dan menjelaskan tentang Indonesia. Tentang perjuangan kemerdekaan, tentang ribuan pulaunya, dan juga tentang ibukota Indonesia.

“Aah, If your explanation is right, Indonesia is a beautiful, rich country.”, ujar Michelle terpukau.

“How about Korea? You’re from Korea, right?”, Tanya Jason. Michelle mengangguk. “Korea is a pretty country, too. We have beautiful Han River. Beautiful spring. And many more.”, ujar Michelle sambil tersenyum.

Ada satu pertanyaan yang ingin Jason tanyakan, hanya saja dia agak ragu menanyakannya. “Michelle, can I ask you something?”, Tanya Jason ragu-ragu. Michelle mengangguk. “You’re a Korean, right? But why you can speak in English fluently? And, why your name is Michelle? It’s not a Korea name”, Tanya Jason. Mendengar itu, Michelle hanya tertawa lalu menjawab “Many people ask me about that. I’m a Korean, but I was born and raise in America. At age 11, my family decided to go back to our hometown, to Seoul.”, jawab Michelle. “Ah, ne. Arraseo.”, jawab Jason. Michelle terkejut mendengar jawaban itu. “You can speak in Korean?”, Tanya Michelle. Jason mengangguk dan menjawab “Just a little.”

Jakarta, Desember 2008

Seiring berjalannya waktu, Jason dan Michelle semakin dekat. Mereka sering berangkat dan pulang sekolah bersama-sama. Beberapa kali Jason mampir ke rumah Michelle. Rumahnya sangat luas. Di halaman belakangnya terdapat kolam ikan yang juga luas dengan puluhan ikan koi berenang-renang di dalamnya.

Michelle tinggal bersama kakaknya, Mike, yang memang bekerja di salah satu perusahaan multi-nasional di Jakarta. Kedua orang tua Michelle meninggal akibat kecelakaan di distrik Gangnam, Seoul. Michelle tidak memiliki sanak saudara di Korea, oleh karena itu kakaknya memutuskan untuk membawa Michelle ke Indonesia dan tinggal bersamanya. Itulah yang membawa Michelle hadir di sini. Di Indonesia. Di Jakarta, Di rumah kakaknya. Di halaman belakang rumahnya. Di pinggir kolam ikan. Di samping Jason.

Jason tidak pernah menyangka, di balik wajah cantik Michelle yang selalu tersenyum, ternyata menyimpan duka yang amat dalam. Beberapa waktu yang lalu Mike pernah bercerita tentang kenapa Michelle bisa tinggal bersamanya. Tentu saja kehilangan orang tua bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh. Jason bersyukur, meskipun dia hanya tinggal bersama ayahnya, setidaknya orang tuanya hanya bercerai. Dia masih bisa melihat ibunya meskipun beliau sedang sibuk dengan keluarganya yang baru. Sedangkan Michelle? Tentu hidupnya sangat sepi dan kosong.

Di sampingnya, Michelle tersenyum sambil memberi makan ikan-ikan itu. Bagaimana mungkin Michelle masih bisa tersenyum? Bagaimana mungkin dia masih bisa menampakkan ekspresi wajah yang tenang? Kalau itu terjadi pada Jason, tentu saja dia tidak akan mudah melupakan kesedihannya. Dia teringat ketika orang tuanya bercerai, dia menangis sepanjang malam selama 1 bulan. ‘Pasti gadis ini memiliki hati yang tegar’pikirnya.

Sementara itu, dari balkon lantai dua rumahnya, Mike memperhatikan Jason dan Michelle di halaman belakang. Sungguh senang hatinya, melihat senyum terpatri jelas di wajah adiknya. Senyum yang telah mengembang selama 6 bulan itu, sempat menghilang 1 tahun lamanya. Dan akhirnya senyum itu kembali.

‘Dan semoga senyum itu tidak akan menghilang lagi’ harapnya pada angin yang berhembus perlahan, menyampaikan berita suka cita pada seluruh penghuni bumi bahwa Mike dan Michelle tengah bahagia.

Jason terus memandangi wajah Michelle. Mengagumi setiap inci wajah blasteran itu, yang menurutnya sangat sempurna. Matanya yang tidak terlalu sipit, bulu matanya yang lentik, hidung yang mancung. Belum lagi bibirnya yang ranum kemerahan selalu menyungging senyum. Dan melengkapi semuanya, rambutnya yang panjang selalu digerai.

‘Semoga saja senyum itu selalu ada. Selalu…. Pada saat apapun.’ Batinnya, Dan lagi, hanya angin yang mengetahui harapannya.

Sadar bahwa dirinya diperhatikan, Michelle menghentikan kegiatannya dan menatap Jason.‘Why is he looking at me like that?’pikir Michelle. Jujur saja, dia merasa amat canggung diperhatikan seperti itu. “Jason, why are you looking at me like that? Something wrong with my face?”, Tanya Michelle. Jason tersadar dari lamunannya. “Ah.. oh… nothing.”, jawabnya gugup. Wajahnya memerah, kontras sekali dengan cahaya senja sore itu. Melihat Jason yang salah tingkah, Michelle hanya tersenyum. Atau lebih tepatnya, tersipu malu. Detak jantungnya memang berdegup lebih cepat semenjak tadi. “Tadi” dalam artian 6 bulan yang lalu, semenjak dirinya duduk di sebelah Jason. Detak jantung yang hanya milik Jason seorang.

‘Ah, hope he can stay next to me. Forever….’ Dan angin menghembuskan harapannya. Bahwa insan cantik bernama Michelle Kim tengah jatuh cinta pada Jason Prasetyo.

Jakarta, April 2009

Semua murid kelas XII SMA se-Indonesia tengah antusias. Tak terkecuali Jason dan teman-temannya. Pasalnya, mereka lulus 100%. Termasuk Michelle, meskipun dia lulus dengan nilai Bahasa Indonesia yang pas-pasan. Namun, itu sudah prestasi yang luar biasa, mengingat dia baru 1 tahun sekolah di Indonesia, namun kemampuan bahasanya cukup baik.

Hari itu, Jason dan Michelle duduk berdua di taman belakang sekolah. Mereka lebih memilih duduk berdua daripada harus bergabung dengan teman-teman mereka yang tengah coret-coret baju. Hanya saja ada yang berbeda. Tak ada senyum yang selalu menghiasi wajah Michelle. Yang ada hanya wajah yang tertunduk menatap tanah. Jason memperhatikan Michelle dengan ekspresi sedih. Inilah yang selalu dia takutkan, ketika senyum itu menghilang dari wajahnya.

“Why don’t you tell me this earlier?”, Tanya Michelle.

“I want to, but….”, Jason membiarkan kalimatnya menggantung di udara. Berhembus bersama angin yang terbang di langit yang mendung ini.

“But, what?”, desak Michelle sambil masih menatap tanah. Tanpa dia sadari, butiran air suci itu meleleh dari matanya. Taka da ekspresi sedih, yang ada hanya air mata yang kini membasahi pipinya. Dia tak menyangka, kebahagiannya akan meninggalkannya.

“I just…. Aah, how can I say this?”,

“Say what?”

Jason hanya terdiam. Dia sungguh tidak tahu apa yang ingin dia katakan. Dia sungguh mencintai gadis itu. Dia tahu alasan gadis itu tersenyum, tepat setelah dia mengatakan bahwa dia mendapat beasiswa kuliah ke Korea. Hanya saja, dia tidak ingin terlalu percaya diri akan harapannya.

“For you know…. I’ve been here for 2 years, not 1 year….”, ujar Michelle di sela isak tangisnya.

“What?”, Tanya Jason. Jason tidak tahu bahwa Michelle sebenarnya sudah di Indonesia selama 2 tahun. 1 tahun dia berusaha mengobati duka karena kehilangan orang tuanya, dan yang 1 tahunnya lagi dia habiskan untuk tenggelam dalam kesedihannya. Jason sama sekali tidak tahu itu.

“Yeah…. I’ve been here for 2 years. I spend my 1 year with my sadness…. With tears, hurts. I think that God is not fair. And now….”, Michelle tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Dia takut akan kalimat yang akan keluar dari mulutnya.

“And now..?”, Tanya Jason karena penasaran.

“And now…. How dare you leaving me! How dare you make a wound again! I hate you, I hate you!”, teriak Michelle sambil memukuli dada dan bahu Jason. Yang dipukuli tentu kesakitan. Pukulan itu terhenti ketika Michelle merasa ada yang memeluk tubuhnya. Jason merengkuh tubuhnya erat. Memberinya kehangatan dan kenyamanan yang meluluh-lantakkan pertahanannya. Air mata itu tak terbendung lagi. Tangis itu semakin deras membasahi pipinya dan juga baju Jason. Jason mendekapnya erat di dadanya, lalu mengecup kepala Michelle dan membelai lembut rambutnya. Merasakan aroma shampoo dan lembutnya rambut Michelle di telapak tangannya.

“I love you, Michelle. I know it’s too late. But, I want to said this when I still have a time. Would you like to be my girl?”, ucap Jason. Tangis Michelle berhenti sejenak. Apa dia tidak salah dengar? Jason? Pria yang selalu di sampingya? Yang menjadi alasan dia untuk tersenyum? Yang selalu mengisi relung kosong hatinya? Menyatakan cinta? Padanya?

“N..ne. I want to be your girl.”, jawab Michelle pelan, namun cukup terdengar Jason. Mendengar itu, Jason melepas pelukannya. Mendekatkan wajahnya ke wajah Michelle. Michelle memejamkan mata. Dia bisa merasakan hembusan nafas Jason. Lalu, dia merasakan bibirnya menyentuh sesuatu yang lunak dan lembut. Bibir mereka bertemu. Saling merasakan diri satu sama lain. Melepaskan hasrat cinta dan kehangatan yang membuat mereka serasa terbang di udara. Jason tahu, hangat tubuh ini tidak akan dia rasakan selama 4 tahun ke depan. Michelle tahu, sentuhan lembut ini tidak akan dia dapatkan untuk 4 tahun ke depan. Namun bagi mereka, ini sudah lebih dari cukup.

Setelah pertautan bibir mereka yang terjadi beberapa detik, namun terasa lama bagi mereka, akhirnya mereka melepaskan diri. Jason menatap wajah cantik Michelle dengan tatapan penuh kasih saying. Michelle menatap wajah tampan Jason dengan penuh kehangatan.

“Saranghae, Michelle Kim.”, ucap Jason sambil memegang pipi kemerahan Michelle dengan tangannya. ‘Semoga ini adalah awal. Bukan sebuah akhir. Semoga dia yang pertama, dan juga yang terakhir’.

“Nado, aku cinta kamu, Jason.”, jawab Michelle sambil menggenggam erat tangan Jason yang memegang pipinya. ‘Hope this is the start. Not the end. Hope he’s the first, and the last’

 

Seoul, Maret 2011

2 tahun sudah Jason merantau ke negeri ginseng, Korea Selatan. Selama 2 tahun itu pula, satu nama, satu wajah, selalu muncul diiringi satu rasa yang sama. Michelle Kim. Seorang Korea yang mampu memikat hatinya sampai begitu dalam. Bukan hanya rasa sekedar suka yang berlalu seiring berjalan waktu. Ini lebih dari itu. Rasa cinta yang mendalam yang membuatnya mampu melangkah, dan mengerti tujuan hidupnya. Hidup bahagia dengan Michelle.

2 tahun itu pula, Jason tak pernah mendapat kesempatan untuk pulang ke Indonesia. Tak pernah ia pulang untuk melewati liburan musim panas atau sekedar merayakan Natal bersama keluarga. Selama itu juga, dia belum pernah bertemu Michelle lagi, kekasih hatinya yang dia tinggal 2 tahun yang lalu.

‘It’s okay, chagi. Aku mengerti you want that scholarship since 1st grade at high school. Jangan korbankan impianmu hanya karena aku. Hwaiting!^^’ itulah yang selalu dikatakannya, ketika Jason menyatakan kerinduannya dan penyesalannya telah meninggalkan Michelle. Kalimat penyemangat itu justru membuat hati Jason teriris. Jason tahu Michelle merindukannya. Dan membaca tulisan itu membuktikan Michelle telah sukses mengalahkan egonya. Sungguh, dia merasa ingin cepat-cepat menyelesaikan studinya dan pulang ke Indonesia.

Musim semi. Sesuatu yang selalu diceritakan Michelle merupakan musim paling indah. Dan sekarang, Jason terduduk di taman itu. Menikmati musim semi. Sendirian. ‘Mungkin ada yang salah denganmu, chagi. Hahaha mianhae aku hanya bercanda.’ Ucap Michelle ketika Jason memberitahunya lewat chatting bahwa dia tidak bisa menikmati musim semi.‘Ya, mungkin ada yang salah. Atau memang ada yang salah. Semua orang menyukai musim ini. Michelle pun begitu. Tapi kenapa aku tidak? Rasanya ada yang berbeda.’ Pikirnya. Matanya mengedarkan pandangan ke sekeliling taman, Di sebelah kanannya tampak sepasang kekasih yang tengah memadu cinta sambil melihat bunga yang bermekaran. Mungkin, sambil membicarakan masa depan hubungan mereka. Di seberangnya tampak keluarga bahagia. Orang tua itu duduk di kursi taman sembari mengawasi dua anak mereka yang masih kecil bermain di sekeliling mereka. Senyum mengembang di wajah kedua orang tua itu. Sementara di sisi lain taman, sepasang kakek-nenek tengah menikmati musim semi berdua. Duduk di kursi taman memandang bunga-bunga dan dedaunan yang bermekaran. Menikmati masa tua mereka, sembari bernostalgia. Mungkin keadaan mereka 50 tahun yang lalu sama seperti sepasang kekasih di sebelah kanan Jason. Mungkin juga keadaan mereka sama seperti keluarga kecil nan bahagia di hadapannya. Dan ketika mereka telah melewati semua fase itu, mereka tengah menikmati masa tua mereka berdua. Mungkin, taman ini juga saksi perjalanan cinta mereka.

Dan Jason tersadar satu hal, hanya dia yang ‘menikmati’ musim semi ini sendiri.

Dan angin berhembus lembut menerpa Jason, seolah berkata bahwa dia tidak pernah sendiri….

Jakarta, Maret 2011

Mendung. Pertanda sebentar lagi hujan akan turun, namun Michelle tidak peduli akan hal itu. Dia tidak peduli sekujur tubuhnya bisa basah kuyup, lalu dia jatuh sakit. Sungguh, sakit yang dia pendam 2 tahun karena menahan rindu itu jauh lebih sakit daripada sekedar demam. Obat demam bisa ditemui dengan mudah. Obat rindu hanya satu. Temu. Sulit untuk dilakukan.

Semilir angina berhembus menerpa dirinya yang tengah terduduk di taman belakang sekolah. Kebetulan sekolah ini tidak tutup di hari Sabtu, entah apa alasannya. Dan di situlah Michelle setiap Sabtu. Mengenang hari terakhirnya bersama Jason. Hari dimana dia merasakan cinta dan kehangatan, sekaligus kepedihan karena harus merelakan Jason pergi ke Korea Selatan. Ke negerinya.

Michelle ingat, bagaimana Jason selalu membuatnya tertawa. Michelle juga ingat, betapa lucunya Jason ketika belajar Bahasa Korea dengannya. Michella tahu, Jason menaruh perhatian lebih padanya, hanya saja dia tidak mau terlalu berharap. Sudah cukup harapnya kandas di tangan orang tuanya yang meninggal karena ditabrak mobil yang melaju cepat. Dia hanya berharap mereka membelikannya kado ulang tahun, itu saja. Lalu kenapa mereka pergi? Padahal kado itu sudah di tangan dan mereka tinggal menyebrang jalan, menghampiri Michelle. Dan Michelle melihat itu semua.

Tak terasa rintik mulai turun. Baik itu rintik dari awan maupun rintik dari matanya. Semakin deras. Membuat Michelle sedikit menggigil. Namun Michelle tidak peduli. Dia hanya ingin menangis, meskipun air matanya tersapu oleh hujan. Dia hanya ingin menangisi kesendiriannya, menangisi apa yang terjadi dalam hidupnya.

Terpaan angina yang cukup kencang membuat Michelle semakin basah, semakin dingin. Namun Michelle tetap bertahan. Dia merindukan sosok Jason. Seluruh badannya telah kuyup, namun tidak sebanding dengan air mata yang telah keluar selama 2 tahun ini. Namun dia sadar, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sekali lagi, dia hanya bisa menerima ketetapan Tuhan.

‘Aku tidak berharap apa-apa. I just want you to know that I love you, dan kamu tidak pernah sendirian….’ Dan angin yang berhembus membawa harapan Michelle. Melewati khatulistiwa. Melewati samudera. Dan berhasil menyampaikan beritanya pada seseorang yang tengah terduduk di taman, ‘menikmati’ musim semi di tengah pasangan-pasangan yang menjalin kebahagiaan di sekitarnya.

Seseorang itu mendadak tersenyum. Dia sadar dirinya tak pernah sendiri. Hembusan angin itu memberitahukan sesuatu, bahwa seseorang di kampung halamannya tengah menemaninya. Seseorang itu adalah Jason.

Seoul, 1 Agustus 2014

‘Sayang, apa kamu sudah makan?’

‘Sayang, di sana sedang musim gugur kan? Jangan lupa untuk selalu membawa jaket.’

‘Sayang, jangan tidur terlalu malam. Aku tahu di sana sudah jam 12 malam. Chat-ku tidak usah dibalas, kamu istirahat saja. I love you :*’

Selalu saja seperti itu selama 5 tahun Jason di Korea. Segala bentuk perhatian kecil yang mampu Michelle berikan membuat Jason semakin semangat menjalani hari-harinya. Kini, selesai sudah kuliah Jason. Dengan menyandang gelar sarjana dari luar negeri, Jason siap pulang ke negerinya seteah 5 tahun lamanya dia tidak kembali.

Dia akan pulang 2 minggu lagi, dan sedang mengepak beberapa barang yang akan dia bawa nanti saat pulang ke Jakarta. Saat sedang sibuk mengepak barang, ponsel-nya berdering beberapa kali, namun Jason tak sadar. Hingga pada panggilan ke-3, Jason baru mengangkat telepon itu. Michelle. Gadis yang ia cintai dan sangat dia rindukan meneleponnya.

“Halo, Sayang”, sapa Jason dengan senyum mengembang.

“….”

“Apa?!”, senyum yang mengembang itu berubah. Menghilang seiring rentetan kata itu keluar dari seseorang yang menelepon dari ujung sana. Berubah menjadi ekspresi penuh kepanikan.

“…..”

“Iya. Aku akan pulang secepatnya!”

Dan pembicaraan terhenti.

Jakarta, 30 Juli 2014

Cuaca di Indonesia semakin lama semakin tidak menentu. Dari panas, tiba-tiba hujan turun. Terkadang mendung namun hujan tidak kunjung datang. Hal itu tidak menyurutkan langkah Michelle untuk terus menjalani hidupnya. Meskipun, hidup yang dia jalani hampa adanya.

7 tahun sudah dia tinggal di Indonesia, Bahasa Indonesia nya semakin lancar. Dia tidak perlu menggunakan Bahasa Inggris untuk percakapannya sehari-hari. Dia pun memiliki banyak teman, karena kepribadiannya yang menyenangkan membuat orang lain ingin dekat dengannya.

Hari itu hujan turun tiba-tiba. Karena tidak membawa paying, alhasil Michelle harus mencari tempat berteduh sejenak. Namun, dia memilih tempat berteduh yang salah. Di sebuah halte bus yang sepi, Michelle menggigil kedinginan. Di sampingnya, lelaki berjaket hitam memandangnya  dengan pandangan penuh nafsu bejat. ‘Gile, cantik banget nih cewek! Putih lagi! Bajunya basah kuyup jadi nyeplak kan tuh! Gilee…!’ itulah yang ada di pikiran laki-laki itu. Sadar dirinya diperhatikan, Michelle berusaha untuk tenang dan mencari kesempatan untuk lari. Sayangnya, di halte bus itu hanya ada mereka berdua, dan tidak ada orang lain di sekitar halte bus itu. Lelaki bejat itu berjalan mendekati Michelle dengan tatapan yang membuat Michelle bergidik ngeri. Michelle segera berlari keluar dari halte bus itu. Namun, sesuatu terjadi…..

BRAAKK!!!

Suara mobil yang membentur daging memekakkan telinga. Lelaki bejat itu lari. Mobil itu melaju dengan cepatnya, meninggalkan sesosok tubuh bersimbah darah. Genangan darah itu tersapu air hujan. Mengalir menuju saluran air di sepanjang pinggiran jalan. Orang-orang mulai mengerumuni tubuh itu. Ada yang berusaha menelepon ambulans, ada juga yang memeriksa handphone yang dimiliki sesosok tubuh itu untuk mencari nomor kerabat. Beberapa orang hanya mengerumuni dan melihat.

Tak lama, ambulans pun datang. Tubuh itu diangkut oleh tim medis dibantu oleh beberapa orang yang menonton kejadian tersebut. Tubuh Michelle diangkut ke rumah sakit. Perlahan, orang-orang di sekitar TKP membubarkan diri. Menyisakan bekas-bekas kejadian yang menimpa seorang cantik dan baik bernama Michelle, yang baru saja membeli sebuah kado untuk menyambut kedatangan kekasihnya, Jason.

 

Jakarta, 4 Agustus 2014

Tit. Tit. Tit. Tit.

Begitulah bunyi alat detector denyut jantung di samping ranjang Michelle. Ya, hanya ada denyut. Tanpa ada kehidupan. Katanya, jikalau jantung masih berdetak, berarti ada kehidupan. Namun, Jason tak percaya kalimat itu sekarang. Nyatanya, denyut jantung orang yang dia cintai itu masih berdetak. Namun, sama sekali tak ada kehidupan di sana. Yang ada hanya sesosok tubuh yang ruh nya melayang entah kemana. Dia belum mati, namun tinggal sedikit lagi. Jason sungguh sedih melihat kekasih di hadapannya itu.

Jason sangat merindukan Michelle. Namun dia tidak pernah menyangka akan bertemu kekasihnya dalam kondisi seperti ini. Terbujur kaku dan dalam kondisi yang menyedihkan. Badannya penuh luka, namun tidak merasa sakit. Tidak makan dan minum selama 6 hari, namun tidak lapar dan haus. Mendapat banyak kunjungan, namun tidak bahagia. Kekasihnya pulang, namun tak dapat melihatnya, apalagi menangis karenanya. Ya, Michelle mengalami koma.

Jason tak pernah menyangka semua harus seperti ini. Dalam hatinya ini bukanlah sebuah akhir, melainkan hanyalah sebuah jeda yang akan berlanjut. Seperti sebuah cerita yang bersambung, mungkin penulisnya hanya berhenti sejenak untuk memikirkan akhir cerita yang lebih indah. Ya, Jason hanya berharap ini bukanlah akhir.

Sudah 4 hari dia menunggui Michelle tanpa ada tanda-tanda dia akan segera sadar. Di hari pertama kedatangannya, dia hanya berharap bahwa Michelle hanya pingsan, dan sebentar lagi akan bangun. Di hari kedua, dia masih berharap bahwa Michelle baik-baik saja, dan memanggil namanya dengan suara yang parau. Di hari ketiga, harapan itu mulai sirna, menghilang perlahan seiring bunyi tit…tit…. pada detektor denyut jantung yang memberikan harapan palsu padanya. Seolah mengatakan “Dia masih hidup…. Dia masih hidup….”, Namun kenyataannya? Nihil. Di hari keempat, tepatnya hari ini, dia merasa harapannya hanyalah harapan saja. Dia tidak ingin menentukan sendiri jalan cerita ini dan lebih memilih pasrah membiarkan Tuhan yang menggoreskan tintaNya. Jason, Michelle, dan semuanya hanyalah pemeran yang tak berhak menentukan jalan cerita.

Perlahan, air mata itu menetes. Jason tak menyangka bahwa jalan cerita yang harus dia jalani seberat ini. 4 tahun lebih menahan rindu, namun dia harus merelakan obat rindu itu. Ini semua sungguh pahit. Dia menyesal atas semuanya. Dia merasa ini semua salahnya.

‘Andai saja gua ga ke Korea…. Andai saja gua tinggal di Indonesia dan terus bersamanya, menjaganya…. Ini gak akan terjadi! Bodoh! Bodoh! Bodoh!’

‘Andai saja dia ga kenal gua…. Andai saja dia ga memilih duduk di samping gua pas pertama sekolah…. Andai saja… Andai saja….

Andai saja gua ga terlahir di dunia…. Andai saja Tuhan ga niupin ruh ke jasad gua…. Andai saja gua ga pernah terciptakan…. Andai saja gua ga pernah menguucapkan ikrar dan sumpah sebelum terlahir di dunia…. Semuanya ga akan kayak gini…. Michelle pasti masih sadar dan hidup bahagia…..’

Tanpa Jason sadari, seseorang membuka pintu kamar rawat Michelle. Dia adalah Mike, kakak Michelle. Melihat pemandangan di depannya membuat hatinya semakin miris. Michelle yang tergeletak antara hidup dan mati, dan Jason kekasihnya menangis di sampingnya. Selama Mike mengenal Jason, baru kali ini Mike melihat Jason menangis. Selama ini yang dia lihat hanya senyum yang mengembang di wajah Jason ketika Michelle di sampingnya. Sekarang Michelle di sampingnya, namun senyum itu absen dari wajahnya,

“Jason.”, panggil Mike pelan.

Jason menoleh ke arah pintu dan mendapati Mike berdiri di ambang pintu. Tangannya memegang sebuah kotak, entah kotak apa itu.

“Ya, Kak?”, jawab Jason dengan mata yang memerah dan suara sesunggukan.

Mike berjalan menghampiri Jason, menatapnya penuh sedih dan iba. Dia yakin, Jason merasakan hal yang sama dengannya. Sedih atas kondisi Michelle sekaligus menyalahkan diri sendiri atas kejadian ini. Mike merasa dialah orang yang paling patut disalahkan. Dia, kakaknya, harusnya bisa menjaga Michelle lebih baik. Kalau saja dia memilih mengantarkan Michelle dan tidak menghadiri rapat itu, Michelle pasti masih bisa tertawa bersamanya sekarang.

“Kamu ngga perlu menyesali ini semua, Jason. Kalau ada orang yang patut disalahkan, akulah orang yang tepat.”, ujar Mike sambil mendudukkan diri di kursi kosong sebelah Jason.

“Kenapa, Kak?”

“Aku kakaknya. Seharusnya aku bisa menjaga dia lebih baik. Harusnya aku ada di saat dia butuh. Tapi sekarang? Aku cuma orang bodoh yang dengan tidak tahu diri berikrar bahwa aku kakak yang bisa diandalkan.”, ucapnya dengan suara bergetar. Tak ada tangis di wajahnya, namun Jason tahu, terkadang air mata tidak hadir bersama sedih. Tapi, justru itu yang menggambarkan kesedihan yang mendalam, dan membuat siapapun yang melihat miris karenanya. Dan dalam saat seperti ini, Jason merasa diri tak pantas untuk berucap.

“Oh ya, ini ada sesuatu dari Michelle. Sesuatu yang dia perjuangkan sampai akhirnya dia seperti ini.”, ucap Mike sambil menyerahkan kotak di tangannya itu. Dan dia pergi dari ruangan itu. Dia tak sanggup atas apa yang terjadi selanjutnya.

Jason memegangi kotak itu dalam diam. Memandangi kotak berwarna merah itu dan bertanya apa isi dari kotak itu. Jason membukanya dengan ragu dan perlahan. Di dalamnya ada couple ring dan sepucuk surat. Tulisan tangan Michelle tepat satu hari sebelum kejadian itu.

Dear Jason

Annyeon Hasaeyo, chagi ^^ Selamat kembali ke Jakarta ^^
Kamu tahu? Aku senaaang sekali setelah 4 tahun lebih kita tidak ketemu, akhirnya kita ketemu juga
Semoga saja…. Aah terlalu banyak semoga…. Dan aku rasa kamu sudah tahu apa yang ingin aku tulis 🙂

Chagi, aku sangat merindukanmu. 2 tahun aku melihatmu dan jatuh cinta padamu. Iya, 2 tahun. Bahkan aku sudah jatuh cinta padamu sebelum kamu bertemu denganku, Aku sering melihatmu berangkat dan pulang sekolah diam-diam dari jendela kamarku. Hal itulah yang membuatku bisa bersekolah di tempat yang sama denganmu. Kakakku Mike yang mencari tahu dimana kamu bersekolah dan mendaftarkan aku di sekolah yang sama.

Aku mencintaimu, Jason. Amat sangat mencintaimu. Jujur saja, aku tak rela ketika harus membiarkanmu terbang ke Seoul. Aku hanya ingin kamu tinggal di sini, bersamaku, di Indonesia. Aku takut sesuatu terjadi padamu di sana, sama seperti sesuatu terjadi pada orang tuaku. Namun aku sadar, cinta bukan tentang memperjuangkan ego, melainkan sebaliknya. Aku tak ingin mematikan mimpi yang sudah kamu bangun dengan susah payah. Kekasih yang baik bukanlah kekasih yang mematikan mimpi pasangannya.

Chagi, aku menulis surat ini untuk berjaga-jaga kalau aku tak bisa menyampaikan semuanya secara langsung padamu. Aku cinta kamu, My Prince Charming. Lembut seperti angina, sejuk seperti udara musim gugur, menenangkan seperti musim semi, dan tampan seperti Lee Min Ho. Hahaha

PS: Aku ini lebih tua 1 tahun darimu. Mulai saat ini kamu harus memanggilku ‘noona’.

Jason melipat kertas itu dan memasukannya kembali ke dalam kotak dengan hati-hati. Di raihnya couple ring di dalam kotak itu. Cincin emas putih dengan hiasan huruf M pada satu cincin yang berukuran lebih besar, dan huruf J pada cincin lain yang berukuran lebih kecil. Hiasan huruf itu terbuat dari batu permata yang sangat cantik. Lalu, Jason pakai cincin berhiaskan huruf M itu, dan dia pakaikan cincin berhiaskan huruf J itu di jari manis Michelle. Tak lama, tangis itu keluar lagi. Membasahi pertautan tangan mereka yang mengenakan cincin J dan M. Jason dan Michelle.

Jakarta, 3 September 2014

Jason tersadar dari lamunannya. Dia kembali memandangi pualam putih itu dengan tatapan sendu. Ini sudah kunjungannya yang kesekian kali semenjak Michelle dimakamkan. Dia masih merasa amat terpukul atas kepergian kekasihnya itu beberapa minggu yang lalu. Namun dia sadar, Tuhan sudah selesai menggoreskan tintaNya dan memberi tanda titik pada perjalanan hidup Michelle. Dia tidak bisa apa-apa.

Lalu, Jason bangkit. Memandangi kubur pualam putih itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Di satu sisi dia tidak ingin pergi, di sisi lain dia tak bisa melawan takdir. Dia hanyalah pemeran yang mengikuti alur cerita. Dan alur cerita membawanya kembali ke tempat itu. Seoul.

“Sayang, aku mendapatkan pekerjaan baru di Seoul. Dan kali ini aku tak akan kembali. Izinkan aku untuk pergi, ya? Aku akan selalu doakan yang terbaik untukmu. I love you.” Ucapnya sambil mengusap kubur pualam putih itu. Lalu dia beranjak pergi meninggalkan taman pemakaman itu.

Namun Jason tak sadar, seseorang memperhatikannya semenjak tadi. Dia memang tak terlihat oleh mata biasa. Dia berdiri tepat di belakang kubur itu. Seseorang itu cantik, mengenakan pakaian serba putih dan bercahaya. Seseorang itu tersenyum memandang Jason yang semakin menjauh dari kubur miliknya. Sosok itu memandang langit, menyampaikan harapan terakhirnya. Dan seiring hembusan angin, Michelle berangkat menuju alam yang damai yang tengah menantinya.

‘Tuhan, tolong tulislah jalan hidup terbaik untuk Jason. Tulislah akhir hidup yang bahagia untuknya. Berilah dia seorang gadis yang mampu membuatnya tersenyum setiap saat. Buatlah dia tidak terpuruk akan kenangan…..’

‘Karena aku mencintainya, dan menginginkan kebahagiannya. Dengan atau tanpa aku….

STUPID IN LOVE

*backsound : Soyou ft. Mad Clown – Stupid In Love*

Cerita ini terinspirasi dari lagu di atas. Lagu ini salah satu lagu favorit saya dan buat para readers yang merasa dirinya kpopers pasti tahu lagu ini hehe 😀 Ceritanya juga berdasarkan arti dari lirik tersebut, namun saya kembangkan lagi.

Selamat membaca 🙂

Oh ya, sebelum dibaca, saya sarankan untuk mendownload lagu tersebut supaya lebih berasa sedihnya haha. And the last, leave a comment ya 🙂

***

Ruangan itu gelap. Memancarkan cahaya kesedihan yang redup. Suasana itu tenang. Sunyi. Terlalu sunyi. Tidak ada isak tangis, tidak ada suara seseorang yang terus memanggil nama satu orang. Terlalu sunyi untuk ukuran orang yang baru saja mengakhiri hubungan dengan kekasihnya. Atau lebih tepatnya, mantan kekasihnya. Ya, mereka telah mengikrarkan ketidaksanggupan mereka menjalani hubungan, 24 jam yang lalu.

Namun, kamar gadis itu terlalu sunyi. Sunyi yang aneh, membuat siapapun yang melewati kamar apartmennya bertanya-tanya. Bukankah dia baru saja putus? Tak adakah isak tangis? Tangis rindu, tangis penyesalan, atau apapun itu? Kenapa selalu sunyi seminggu ini? Dan dia bahkan tak mengeluarkan suara sekecil apapun? Apakah dia tidak merasa sedih? Atau mungkin dia sedang tidur dan bangun kesiangan seperti biasanya?

Salah. Anggapan orang-orang itu salah. Sangat bohong kalau dia tidak bersedih atas apa yang telah menimpanya. Hubungan yang telah dijalaninya dengan kekasihnya harus kandas di tengah jalan. Siapa yang tidak sedih? Apakah kesedihan harus digambarkan dan diekspresikan dengan air mata? Tidak. Terkadang air mata tidak bisa mewakili kesedihan, karena kesedihan tak terkira yang dialami. Itulah yang gadis itu rasakan sekarang.

Terbaring di tempat tidurnya yang berukuran king size, mengenakan kemeja putih panjang, dia terus menenggelamkan diri. Menenggelamkan diri dalam kesedihan yang membuatnya lupa bahwa dia masih punya kehidupan. Dia merasa mati semenjak 24 jam yang lalu. Semenjak pernyataan yang menyakitkan itu keluar dari mulut kekasihnya. “Lebih baik kita akhiri saja ini semua. Aku lelah harus seperti ini terus. Bertengkar. Itu membuatku lelah. Masih banyak hal yang aku urus dari ada dirimu yang manja.”, begitu kata kekasihnya. Kata-kata itu membuatnya tertohok, seolah vonis kematiannya sudah ditentukan saat itu. Ingin dia menolak keputusan itu. Dia masih mencintai pria itu. Namun di sisi lain, dia tak bisa memungkiri dia juga lelah.

Mengingat itu membuatnya ingin menangis. Entah sudah berapa gulung tissue yang sudah dia habiskan sejak kemarin. Dia tak bisa menangis lagi, bukan berarti dia tidak sedih. Dia tahu, ini semua kesalahannya. Selalu ingin diperhatikan, selalu ingin dimanja tanpa memperdulikan keadaan kekasihnya itu. Dan dengan bangganya dia mengakui dirinya telah memberi perhatian pada mantan kekasihnya itu. Sekarang dia sadar, itu semua NOL besar.

Dia bangkit terduduk di pinggir ranjangnya. Memandang sendu ke arah langit yang menggelap. Membuat seisi ruangan redup, namun justru membuat hatinya tidak redup. Bagaimana bisa lebih redup lagi? Dia sungguh merasa bodoh. Tanpa sadar dia melakukan kesalahan-kesalahan itu. Dan merasa dirinya selalu benar. Dan sekarang, dosa-dosa kotor itu terpampang jelas di hadapannya. Menguak lebar-lebar kenyataan bahwa dia adalah manusia yang bodoh.

“Kenapa kau mengeluarkan kata-kata itu? Aku hanya ingin…”
“Apa lagi yang kamu inginkan? Tidak cukupkah apa yang telah kuberikan? Waktu, tenaga, barang-barang? Bahkan aku merelakan diri menjadi manusia anti-sosial hanya karena kamu menginginkan aku selalu hadir! Selalu dalam artian setiap saat! Kamu mencuri waktuku bersama teman-temanku, keluargaku! Apa lagi yang kurang?!”

Mendengar bentakan dari kekasihnya itu membuatnya mengeluarkan air mata. Perempuan mana yang tidak menangis dibentak secara kasar oleh kekasihnya sendiri? Sementara dia masih memandangmu penuh amarah.

“Kamu jahat! Aku benci kamu! Manusia kasar! Bodoh! Banci!”

“Ooh, aku memang jahat! Aku memang salah! Aku selalu salah! Coba kau hitung, apakah aku pernah benar dimatamu?! Setiap kali bertengkar, selalu aku yang salah! Aku yang minta maaf, meskipun jika dipikir dengan logika, aku hanyalah pelampiasan kekesalanmu! Lagi-lagi dengan bodohnya aku mengalah dan mengatakan bahwa aku tidak berguna dan itu semua salahku!! Iya kan?!”

Mendengar itu, perempuan itu terluka. Terluka karena ucapan penuh amarah itu dan juga terluka karena hati kecilnya setuju dengan apa yang dikatakan pria di hadapannya itu.

“Aku selalu mengalah…. Hanya agar kamu tenang dan tidak emosi…. Tapi, di lain kesempatan kamu berkata aku tidak pernah mengalah. Sakit rasanya! Siapa yang salah?! Aku?!”

Mengingat itu membuat perempuan itu menangis lagi. ‘Aku yang salah…. Aku….’

Sekarang perempuan itu berdiri, berjalan menuju balkon di kamarnya. Melihat langit mendung yang perlahan menurunkan rintik-rintiknya, namun gadis itu tidak peduli. Dia tidak peduli tubuhnya menjadi basah, menggigil, lalu demam. Hanya satu yang dia inginkan

‘Aku ingin waktu berulang dan memperbaiki semuanya’

Namun satu yang dia tahu. Hal itu mustahil terjadi.

Rintik meningkatkan intensitasnya menjadi hujan. Tangis itu tak kunjung keluar dari bola matanya. Dia terlalu sedih untuk melakukan hal remeh seperti menangis. Dia tidak bisa menangis lagi. Dia telah mati.

Pintu itu terbuka, dan seseorang masuk. Memandangnya penuh kebencian dan amarah. Seseorang itu mendekat padanya dan mengatakan “Kita putus!”. Gadis itu merunduk. Kalimat itu terulang lagi. 2 kali, 3 kali, 5 kali. Sampai tak terhitung jumlahnya. Gadis itu berteriak, menutup telinganya erat-erat berusaha mencegah kalimat itu memasuki indra pendengarannya. Lututnya tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Tubuh lemasnya bersandar pada pagar balkon dan kepalanya menunduk, masih menutupi telinganya. Lalu, seseorang itu menghilang seiring hembusan angina itu. Namun kalimat itu masih terngiang-ngiang di kepalanya. Dan akhirnya tangis itu pecah. Tangis yang membawanya pada kenyataan yang pahit. Hujan membasahi tubuhnya. Air mata membasahi hatinya. Namun, kalimat itu membakar seluruh jiwanya. Dan gadis itu terduduk di balkonnya. Di tengah hujan. Menangis. Sendirian. Tanpa ada yang tahu.

‘Apa kau tak melihat air mata ini? Kita tidak perlu berakhir seperti ini. Aku hanya ingin kamu memelukku.’

‘Aah, bodohnya aku. Aku tidak pantas untuk mendapat pelukan darimu.’