STUPID IN LOVE

*backsound : Soyou ft. Mad Clown – Stupid In Love*

Cerita ini terinspirasi dari lagu di atas. Lagu ini salah satu lagu favorit saya dan buat para readers yang merasa dirinya kpopers pasti tahu lagu ini hehe 😀 Ceritanya juga berdasarkan arti dari lirik tersebut, namun saya kembangkan lagi.

Selamat membaca 🙂

Oh ya, sebelum dibaca, saya sarankan untuk mendownload lagu tersebut supaya lebih berasa sedihnya haha. And the last, leave a comment ya 🙂

***

Ruangan itu gelap. Memancarkan cahaya kesedihan yang redup. Suasana itu tenang. Sunyi. Terlalu sunyi. Tidak ada isak tangis, tidak ada suara seseorang yang terus memanggil nama satu orang. Terlalu sunyi untuk ukuran orang yang baru saja mengakhiri hubungan dengan kekasihnya. Atau lebih tepatnya, mantan kekasihnya. Ya, mereka telah mengikrarkan ketidaksanggupan mereka menjalani hubungan, 24 jam yang lalu.

Namun, kamar gadis itu terlalu sunyi. Sunyi yang aneh, membuat siapapun yang melewati kamar apartmennya bertanya-tanya. Bukankah dia baru saja putus? Tak adakah isak tangis? Tangis rindu, tangis penyesalan, atau apapun itu? Kenapa selalu sunyi seminggu ini? Dan dia bahkan tak mengeluarkan suara sekecil apapun? Apakah dia tidak merasa sedih? Atau mungkin dia sedang tidur dan bangun kesiangan seperti biasanya?

Salah. Anggapan orang-orang itu salah. Sangat bohong kalau dia tidak bersedih atas apa yang telah menimpanya. Hubungan yang telah dijalaninya dengan kekasihnya harus kandas di tengah jalan. Siapa yang tidak sedih? Apakah kesedihan harus digambarkan dan diekspresikan dengan air mata? Tidak. Terkadang air mata tidak bisa mewakili kesedihan, karena kesedihan tak terkira yang dialami. Itulah yang gadis itu rasakan sekarang.

Terbaring di tempat tidurnya yang berukuran king size, mengenakan kemeja putih panjang, dia terus menenggelamkan diri. Menenggelamkan diri dalam kesedihan yang membuatnya lupa bahwa dia masih punya kehidupan. Dia merasa mati semenjak 24 jam yang lalu. Semenjak pernyataan yang menyakitkan itu keluar dari mulut kekasihnya. “Lebih baik kita akhiri saja ini semua. Aku lelah harus seperti ini terus. Bertengkar. Itu membuatku lelah. Masih banyak hal yang aku urus dari ada dirimu yang manja.”, begitu kata kekasihnya. Kata-kata itu membuatnya tertohok, seolah vonis kematiannya sudah ditentukan saat itu. Ingin dia menolak keputusan itu. Dia masih mencintai pria itu. Namun di sisi lain, dia tak bisa memungkiri dia juga lelah.

Mengingat itu membuatnya ingin menangis. Entah sudah berapa gulung tissue yang sudah dia habiskan sejak kemarin. Dia tak bisa menangis lagi, bukan berarti dia tidak sedih. Dia tahu, ini semua kesalahannya. Selalu ingin diperhatikan, selalu ingin dimanja tanpa memperdulikan keadaan kekasihnya itu. Dan dengan bangganya dia mengakui dirinya telah memberi perhatian pada mantan kekasihnya itu. Sekarang dia sadar, itu semua NOL besar.

Dia bangkit terduduk di pinggir ranjangnya. Memandang sendu ke arah langit yang menggelap. Membuat seisi ruangan redup, namun justru membuat hatinya tidak redup. Bagaimana bisa lebih redup lagi? Dia sungguh merasa bodoh. Tanpa sadar dia melakukan kesalahan-kesalahan itu. Dan merasa dirinya selalu benar. Dan sekarang, dosa-dosa kotor itu terpampang jelas di hadapannya. Menguak lebar-lebar kenyataan bahwa dia adalah manusia yang bodoh.

“Kenapa kau mengeluarkan kata-kata itu? Aku hanya ingin…”
“Apa lagi yang kamu inginkan? Tidak cukupkah apa yang telah kuberikan? Waktu, tenaga, barang-barang? Bahkan aku merelakan diri menjadi manusia anti-sosial hanya karena kamu menginginkan aku selalu hadir! Selalu dalam artian setiap saat! Kamu mencuri waktuku bersama teman-temanku, keluargaku! Apa lagi yang kurang?!”

Mendengar bentakan dari kekasihnya itu membuatnya mengeluarkan air mata. Perempuan mana yang tidak menangis dibentak secara kasar oleh kekasihnya sendiri? Sementara dia masih memandangmu penuh amarah.

“Kamu jahat! Aku benci kamu! Manusia kasar! Bodoh! Banci!”

“Ooh, aku memang jahat! Aku memang salah! Aku selalu salah! Coba kau hitung, apakah aku pernah benar dimatamu?! Setiap kali bertengkar, selalu aku yang salah! Aku yang minta maaf, meskipun jika dipikir dengan logika, aku hanyalah pelampiasan kekesalanmu! Lagi-lagi dengan bodohnya aku mengalah dan mengatakan bahwa aku tidak berguna dan itu semua salahku!! Iya kan?!”

Mendengar itu, perempuan itu terluka. Terluka karena ucapan penuh amarah itu dan juga terluka karena hati kecilnya setuju dengan apa yang dikatakan pria di hadapannya itu.

“Aku selalu mengalah…. Hanya agar kamu tenang dan tidak emosi…. Tapi, di lain kesempatan kamu berkata aku tidak pernah mengalah. Sakit rasanya! Siapa yang salah?! Aku?!”

Mengingat itu membuat perempuan itu menangis lagi. ‘Aku yang salah…. Aku….’

Sekarang perempuan itu berdiri, berjalan menuju balkon di kamarnya. Melihat langit mendung yang perlahan menurunkan rintik-rintiknya, namun gadis itu tidak peduli. Dia tidak peduli tubuhnya menjadi basah, menggigil, lalu demam. Hanya satu yang dia inginkan

‘Aku ingin waktu berulang dan memperbaiki semuanya’

Namun satu yang dia tahu. Hal itu mustahil terjadi.

Rintik meningkatkan intensitasnya menjadi hujan. Tangis itu tak kunjung keluar dari bola matanya. Dia terlalu sedih untuk melakukan hal remeh seperti menangis. Dia tidak bisa menangis lagi. Dia telah mati.

Pintu itu terbuka, dan seseorang masuk. Memandangnya penuh kebencian dan amarah. Seseorang itu mendekat padanya dan mengatakan “Kita putus!”. Gadis itu merunduk. Kalimat itu terulang lagi. 2 kali, 3 kali, 5 kali. Sampai tak terhitung jumlahnya. Gadis itu berteriak, menutup telinganya erat-erat berusaha mencegah kalimat itu memasuki indra pendengarannya. Lututnya tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Tubuh lemasnya bersandar pada pagar balkon dan kepalanya menunduk, masih menutupi telinganya. Lalu, seseorang itu menghilang seiring hembusan angina itu. Namun kalimat itu masih terngiang-ngiang di kepalanya. Dan akhirnya tangis itu pecah. Tangis yang membawanya pada kenyataan yang pahit. Hujan membasahi tubuhnya. Air mata membasahi hatinya. Namun, kalimat itu membakar seluruh jiwanya. Dan gadis itu terduduk di balkonnya. Di tengah hujan. Menangis. Sendirian. Tanpa ada yang tahu.

‘Apa kau tak melihat air mata ini? Kita tidak perlu berakhir seperti ini. Aku hanya ingin kamu memelukku.’

‘Aah, bodohnya aku. Aku tidak pantas untuk mendapat pelukan darimu.’

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s