STUPID IN LOVE

stupid-in-love-4-1

STUPID IN LOVE

Author             : Gazehayu
Main Casts      :

  • Kim Seokjin of BTS as Jin
  • Kang Jihyun (Soyou) of Sistar as Soyou

Rating             : PG-15
Length             : Oneshot
Genre              : Songfic, Sad Romance, Angst
Disclaimer       :
Annyeong, chingudeul^^
Ini posting pertama author dengan ff songfic pertama author berjudul “Stupid In Love” yang dinyanyikan oleh Soyou x Mad Clown di tahun 2013 😀 Kenapa author pilih lagu ini? Karena author suka sama lagunya dan penjiwaan keduanya pas nyanyi bagus banget. Dan thanks to Songrieunnike (https://unlimitedstories.wordpress.com/) untuk posternya yang daebak 😀 Well, tanpa banyak bicara, check it out J

All the casts are belong to God, family, management, and YOU as their fans. I just own the storyline, inspirated from a song with title ‘Stupid In Love’ by Soyou x Mad Clown.

Last but not least, Happy reading 😀

.

.

.

.

.

Summary :

‘Aku selalu salah dan kamu selalu benar.’

‘Aku hanya ingin kamu memelukku.’

Soyou’s Side

All Author POV

Ruangan itu gelap. Memancarkan cahaya kesedihan yang redup. Suasana itu tenang. Sunyi. Terlalu sunyi. Tidak ada isak tangis, tidak ada suara seseorang yang terus memanggil nama satu orang. Terlalu sunyi untuk ukuran yeoja yang baru saja mengakhiri hubungan dengan kekasihnya. Atau lebih tepatnya, mantan kekasihnya. Ya, mereka telah mengikrarkan ketidaksanggupan mereka menjalani hubungan, 24 jam yang lalu.

Namun, kamar yeoja bernama lengkap Kang Jihyun, atau biasa dipanggil Soyou itu, terlalu sunyi. Sunyi yang aneh, membuat siapapun yang melewati kamar apartmentnya akan bertanya-tanya. Bukankah dia baru saja putus? Tak adakah isak tangis? Tangis rindu, tangis penyesalan, atau apapun itu? Kenapa selalu sunyi seharian ini? Dan dia bahkan tak mengeluarkan suara sekecil apapun? Apakah dia tidak merasa sedih? Atau mungkin dia sedang tidur dan bangun kesiangan seperti biasanya?

Salah. Anggapan orang-orang itu salah. Sangat bohong kalau Soyou tidak bersedih atas apa yang telah menimpanya. Hubungan yang telah dijalaninya dengan namjachingunya harus kandas di tengah jalan. Siapa yang tidak sedih? Apakah kesedihan harus digambarkan dan diekspresikan dengan air mata? Tidak. Terkadang air mata tidak bisa mewakili kesedihan, karena kesedihan tak terkira yang dialami. Itulah yang yeoja itu rasakan sekarang.

Terbaring di tempat tidurnya yang berukuran king size, mengenakan kemeja putih panjang, dia terus menenggelamkan diri. Menenggelamkan diri dalam kesedihan yang membuatnya lupa bahwa dia masih punya kehidupan. Soyou merasa mati semenjak 24 jam yang lalu. Semenjak pernyataan yang menyakitkan itu keluar dari mulut kekasihnya. “Lebih baik kita akhiri saja ini semua. Aku lelah harus seperti ini terus. Bertengkar. Itu membuatku lelah. Masih banyak hal yang harus aku urus dari pada dirimu yang manja.”, begitu kata kekasihnya. Kata-kata itu membuatnya tertohok, seolah vonis kematiannya sudah ditentukan saat itu. Ingin dia menolak keputusan itu. Dia masih mencintai namja itu. Namun di sisi lain, dia tak bisa memungkiri dia juga lelah.

Mengingat itu membuatnya ingin menangis. Entah sudah berapa gulung tissue yang sudah dia habiskan sejak kemarin. Yeoja itu tak bisa menangis lagi, bukan berarti dia tidak sedih. Dia tahu, ini semua kesalahannya. Selalu ingin diperhatikan, selalu ingin dimanja tanpa memperdulikan keadaan namjachingunya itu. Dan dengan bangganya dia mengakui dirinya telah memberi perhatian pada mantan namjachingunya itu. Sekarang dia sadar, itu semua NOL besar.

Dia bangkit terduduk di pinggir ranjangnya. Memandang sendu ke arah langit yang menggelap. Membuat seisi ruangan redup, namun justru membuat hatinya tidak redup. Bagaimana bisa lebih redup lagi? Dia sungguh merasa bodoh. Tanpa sadar dia melakukan kesalahan – kesalahan itu. Dan merasa dirinya selalu benar. Dan sekarang, dosa-dosa kotor itu terpampang jelas di hadapannya. Menguak lebar-lebar kenyataan bahwa dia adalah manusia yang bodoh.

Malam itu dingin. Taman itu sepi, hanya ada 1 – 2 orang saja yang berada di situ. Ahjussi petugas kebersihan itu sedang kelelahan membersihkan salju yang menumpuk. Di taman itu, sepasang kekasih sedang bertengkar, hanya karena perjanjian mereka mundur 15 menit dari yang seharusnya karena mobil namja itu mogok di pinggir jalan.

Soyou, si yeoja, merasa sangat marah. Baginya, waktu 15 menit sekalipun tidak boleh terlewatkan. Dan setelah menunggu 15 menit lebih lama, namjachingunya pun datang.

“Chagi, mian…”, ucapan namja itu terputus ketika mendapat tatapan dingin dari Soyou.

“Kau terlambat 15 menit. Apa lagi alasanmu?”, tanya Soyou ketus.

“Mobilku mogok di pinggir jalan. Mian.”, jawab Jin, si namjachingu. Kentara sekali dari nafasnya yang terengah – engah bahwa dia berjalan, atau mungkin berlari, menuju tempat itu.

“Cih, alasan! Kau selalu saja seperti itu! Tak tahukah kamu, aku menunggu 15 menit di sini dan kedinginan?! Eoh?!”, tanya Soyou. Nafas Jin masih terengah – engah. Udara malam itu sangat dingin, membuat nafasnya menjadi lebih sulit.

“Mi..mianhae..”, hanya itu yang mampu keluar dari mulut Jin yang mengeluarkan asap. ‘Tak tahukah kamu aku harus berlari sejauh 2km ke sini karena tidak ada angkutan menuju tempat ini?’, batin Jin kesal.

“Mianhae? Selalu seperti itu. Selalu saja meminta maaf tapi tak pernah ada perubahan. Apakah kau mencintaiku? Kalau tidak, kita putus saja! Aku muak dengan namjachingu sepertimu!”, bentak Soyou.

‘Oke, ini sudah keterlaluan.’

“Kalau itu maumu, baiklah. Lebih baik kita akhiri saja ini semua. Aku lelah harus seperti ini terus. Bertengkar. Itu membuatku lelah. Masih banyak hal yang harus aku urus dari pada dirimu yang manja.”, ucap Jin tegas.

Soyou terkesiap dengan kalimat Jin barusan. Sebenarnya dia tidak serius mengucapkan kata ‘putus’ itu. Dia hanya ingin Jin memohon minta maaf, dan memeluknya karena dia butuh kehangatan.

“Apa… kau serius, chagi?”, tanya Soyou dengan suara bergetar. Entah karena dingin atau menahan tangis.

“Ne, aku serius. Aku tidak tahan dengan dirimu.”, ucap Jin dengan suara bergetar pula. Entah karena dingin atau menahan emosi.

“Kenapa kau mengeluarkan kata-kata itu? Aku hanya ingin…”
“Apa lagi yang kamu inginkan? Tidak cukupkah apa yang telah kuberikan? Waktu, tenaga, barang-barang? Bahkan aku merelakan diri menjadi manusia anti-sosial, menjauh dari teman – temanku hanya karena kamu menginginkan aku selalu hadir! Selalu dalam artian setiap saat! Kamu mencuri waktuku bersama teman-temanku, keluargaku! Apa lagi yang kurang?!”

Mendengar bentakan dari namjachingunya itu membuatnya mengeluarkan air mata. Yeoja mana yang tidak menangis dibentak secara kasar oleh namjachingunya sendiri? Sementara dia masih memandangmu penuh amarah.

“Kamu jahat! Aku benci kamu! Manusia kasar! Bodoh! Tidak gentle! Berani kasar pada yeoja! Namja macam apa kamu?!”, maki Soyou.

“Ooh, aku memang jahat! Aku memang salah! Aku selalu salah! Coba kau hitung, apakah aku pernah benar dimatamu?! Setiap kali bertengkar, selalu aku yang salah! Aku yang minta maaf, meskipun jika dipikir dengan logika, aku hanyalah pelampiasan kekesalanmu! Lagi-lagi dengan bodohnya aku mengalah dan mengatakan bahwa aku tidak berguna dan itu semua salahku!! Iya kan?!”, balas Jin, sang namjachingu.

Mendengar itu, hati Soyou terluka. Terluka karena ucapan penuh amarah itu dan juga terluka karena hati kecilnya setuju dengan apa yang dikatakan namja di hadapannya itu.

“Aku selalu mengalah…. Ketika kita bertengkar, aku selalu mengalah…. Hanya agar kamu tenang dan tidak emosi…. Tapi, di lain kesempatan kamu berkata aku tidak pernah mengalah. Sakit rasanya! Siapa yang salah?! Aku?!”, bentak Jin. Sepertinya emosinya sudah sampai di ubun – ubun.

Dan Jin pun pergi. Meninggalkan Soyou yang terisak sendirian di taman itu. Malam menggelap. Udara mendingin. Salju pun turun lagi. Soyou menangis, dan punggung namja itu menjauh dan tidak akan berbalik lagi.

Mengingat itu membuat perempuan itu menangis lagi. ‘Aku yang salah…. Aku….’

Sekarang yeoja itu berdiri, berjalan menuju balkon di kamarnya. Melihat langit yang perlahan menurunkan butiran saljunya, namun yeoja itu tidak peduli. Dia tidak peduli tubuhnya menjadi kedinginan, menggigil, lalu demam. Hanya satu yang Soyou inginkan

‘Aku ingin waktu berulang dan memperbaiki semuanya’

Namun satu yang dia tahu. Hal itu mustahil terjadi.

Butiran salju itu meningkatkan intensitasnya menjadi hujan salju. Tangis itu tak kunjung keluar dari bola matanya. Soyou terlalu sedih untuk melakukan hal remeh seperti menangis. Dia tidak bisa menangis lagi. Dia telah mati.

Pintu itu terbuka, dan seseorang masuk. Memandangnya penuh kebencian dan amarah. Namja itu mendekat padanya dan mengatakan “Kita putus!”. Yeoja itu merunduk. Kalimat itu terulang lagi. 2 kali, 3 kali, 5 kali. Sampai tak terhitung jumlahnya. Yeoja itu berteriak, menutup telinganya erat-erat berusaha mencegah kalimat itu memasuki indra pendengarannya. Lututnya tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Tubuh lemasnya bersandar pada pagar balkon dan kepalanya menunduk, masih menutupi telinganya. Lalu, namja itu menghilang seiring hembusan angin itu. Namun kalimat itu masih terngiang-ngiang di kepalanya. Dan akhirnya tangis itu pecah. Tangis yang membawanya pada kenyataan yang pahit. Salju menghujani tubuhnya. Air mata membasahi hatinya. Namun, kalimat itu membakar seluruh jiwanya. Dan Soyou terduduk di balkonnya. Di tengah hujan salju. Menangis. Sendirian. Tanpa ada yang tahu.

‘Apa kau tak melihat air mata ini? Kita tidak perlu berakhir seperti ini. Aku hanya ingin kamu memelukku.’

‘Aah, bodohnya aku. Aku tidak pantas untuk mendapat pelukan darimu.’

‘Sungguh, aku memang bodoh….’

Jin’s Side

Author POV

Tak terhitung berapa banyak barang yang sudah dia lemparkan sembarang arah. Kamar bercat merah dan hitam dengan warna barang – barangnya yang senada itu tampak berantakan. Seperti kapal pecah, orang bilang. Namja itu tidak peduli lagi seperti apa rupa kamarnya dan apa reaksi eommanya kalau mengetahui kamar anak laki – lakinya itu sekacau ini.

Kamar itu terlalu riuh sejak 24 jam yang lalu. Bahkan eomma dan appanya sudah mengetuk pintu kamarnya dan hanya dia jawab dengan, “Gwaenchana. Aku hanya butuh waktu untuk sendiri.”, dan mereka memaklumi itu. Namja itu tidak berteriak ataupun mengeluarkan suara apapun selain barang – barang yang dia lempar. Terkadang, emosi yang teramat sangat bisa membuat bibir jadi kelu untuk sekedar membuka dan berteriak.

Appa dan eomma tampak khawatir dengan kondisi anak semata wayang mereka, Kim Seok Jin. Dia terdengar sangat emosi, bahkan stress mendekati gila. Sejak 24 jam yang lalu, Jin tampak seperti orang yang mabuk atau semacamnya karena dia terus mengurung diri dan melempar barang – barang di kamarnya.

Salah. Anggapan mereka salah. Jin masih waras meskipun, ya, dia sedang sangat marah. Amarah dan emosi yang dia pendam selama masih menjalani hubungan dengan Kang Jihyun atau Soyou, kekasihnya. Dia harus berulang kali memendam emosi, memendam ego hanya agar pertengkaran mereka tidak berlarut – larut. Namun sekarang, ini sudah cukup baginya. Dia tidak sanggup menahan emosinya lebih lama lagi.

Seorang Kim Seokjin yang penyabar dan tidak mudah marah, kini dia marah setelah sekian tahun tidak melakukannya. Dan penyebabnya adalah Soyou, mantan yeojachingunya.

Jin berjalan mondar – mandir mengelilingi kamarnya. Sprei berwarna merah itu sudah tidak karuan bentuknya. Jatuh dari tempat tidur dan kusut masai bentuknya. Bantal dan guling sudah tidak berada di tempatnya dengan benar. Lantai itu penuh buku yang berserakan, beberapa di antaranya bahkan lepas dari sampul depannya. Tempat sampah itu penuh dengan barang – barang pemberian mantan kekasihnya, beberapa di antaranya adalah foto yang bingkai dan kacanya sudah rusak.

Sekilas dia melihat foto itu. Dia ingat moment foto itu, ketika Soyou ingin ditemani jalan – jalan ke mall. Yeoja itu terus meminta dan merajuk padanya, padahal yeoja itu tahu kalau Jin, kekasihnya, sedang berada di ruang latihan bersama member BTS yang lainnya. Namun, Soyou seolah tidak peduli dan terus meminta Jin untuk menemaninya.

“Ne, tapi nanti ya? Aku sedang…”

“Sekarang, chagi. Aku ingin belanja itu sekarang, bukan nanti.”, ucapan Jin terpotong oleh kalimat Soyou. Jin mendesah nafas, berusaha mengontrol emosinya.

“Ne, ne. Kalau begitu, tunggu aku.”, lalu Jin menutup telepon dan bergegas pergi, dengan alasan kalau dia ingin ke toilet.

Jin mendengus kesal mengingat hal itu. ‘Cih, bahkan kau tidak memberiku kesempatan untuk bergaul dengan chinguku.’, batin Jin. Dan, Jin pikir barang – barang itu akan berakhir di tempat penimbunan atau semacamnya.

“Chagi, belikan aku itu.”, pinta Soyou dengan manjanya sambil menunjuk ke arah sebuah tas, yang kalau dilihat dari modelnya, tas itu sangat bagus dan mahal. Soyou terus merajuk dan mengeluarkan jurus aegyo nya. Jin, yang memang sangat menyayangi yeojachingunya itu, melihat isi dompetnya.

‘Ah, harga tas itu akan menguras separuh isi dompetku. Tapi, tidak apalah.’

“Ne, akan aku belikan.”, ucap Jin. Soyou tersenyum kesenangan. Dan selama 3 minggu, Jin harus menghemat pengeluarannya.

‘Bahkan kamu tidak pernah menghargai pengorbananku.’, batin Jin. Mengingat itu semua mengingat Jin ingin melemparkan sesuatu lagi. Dan remote AC yang berada di dekatnya pun menjadi sasaran kekesalannya.

Dia berjalan menuju balkonnya. Melihat awan mendung gelap yang meredupi semua cahaya yang masuk ke retina matanya. Hawa dingin itu terasa menusuk tubuhnya, padahal dia sudah mengenakan sweater putih. Hembusan asap itu keluar dari mulutnya. Dilanda kedinginan membuatnya pantang untuk beranjak dari tempat itu. Entah kenapa, tempat ini selalu menjadi tempat favoritnya.

Sekilas, dia mengingat sesuatu. Di sini, di balkon ini, dia dan mantan yeojachingunya itu pernah terlibat sebuah percakapan, dengan cahaya bulan dan bintang sebagai saksinya.

“Apa kamu mencintaiku?”, tanya Jin. Soyou menghadap kekasihnya dengan heran. Untuk apa dia menanyakan hal seperti itu?

“Ne, tentu saja aku mencintaimu. Untuk apa kamu menanyakan itu?”, tanya Soyou heran.

“Maukah kamu berjanji satu hal padaku?”, tanya Jin. Soyou memandang heran namjachingu nya yang duduk di sebelah kanannya itu.

“Tentu. Berjanji apa?”, tanya Soyou.

“Untuk selalu bersamaku. Dalam keadaan apapun, susah senang, dan hidup bahagia selamanya.”, ucap Jin dan dia mengeluarkan sekotak cincin. Soyou terkaget karenanya. Meskipun tempat ini jauh dari kata romantis, namun tetap saja dia senang. Dan dia pun mengangguk sebagai jawaban.

Lalu, Jin memakaikan cincin itu ke jari manis tangan kanan Soyou. Getaran itu mulai terasa. Hatinya bergetar, mengirimkan sinyal kepada otaknya kalau getaran itu tidak bisa ditahan lagi. Dan dia menangis.

‘Huh, time’s changed. People changed.’, dengus Jin ketika mengingat hal itu. Sejak saat itu, tingkah Soyou menjadi sangat menyebalkan dan itu membuat Jin muak. Segala hal telah dia korbankan untuk Soyou. Namun apa yang dia dapatkan? Tidak ada. Hanya sifat manja dan kekanak – kanakkan.

Hanya sesuatu sederhana itu yang dia butuhkan. Rasa dihargai dan disayangi, apa susah? Kenapa pengorbanannya tidak pernah dihargai? Kenapa dia selalu meminta lebih? Kenapa segala sesuatu yang telah dia berikan dianggap angin lalu olehnya? Seolah butiran pasir pantai yang terhembus angina atau terhanyut bersama ombak, tidak berbekas? Maka jangan salahkan dia kalau emosinya sudah memuncak.

Dia meremas rambutnya. Amarah kembali melandanya. Semua karena yeoja itu. Yeoja yang, ah entahlah, Jin sendiri tidak tahu kata apa yang pantas untuk menggambarkan sifat yeoja itu? Manja? Keterlaluan? Entahlah. Yang jelas dia tidak bisa, dan tidak mungkin, bertahan lebih lama lagi. Hatinya lelah. Dirinya muak. Dia ingin sebuah kebebasan.

Jin teringat lagi apa yang terjadi pada mereka berdua, 24 jam yang lalu….

“….selalu aku yang salah! Aku yang minta maaf, meskipun jika dipikir dengan logika, aku hanyalah pelampiasan kekesalanmu! Lagi-lagi dengan bodohnya aku mengalah dan mengatakan bahwa aku tidak berguna dan itu semua salahku!! Iya kan?!”

Dia sama sekali tidak melebih – lebihkan. Itulah yang terjadi. Menjadi pelampiasan sangatlah tidak mengenakkan. Dan lagi, pada akhirnya dia ‘harus’ mengakui kalau dia salah dan meminta maaf pada yeoja itu, padahal itu bukanlah kesalahannya. Dia tak ubahnya seperti boneka.

‘Huh, bodoh sekali aku!’

Dan setelah kejadian malam itu, dirinya baru sadar dia telah dibodohi oleh ‘cinta’. Tidak ada cinta yang memaksa. Tidak ada cinta yang melampiaskan amarah. Tidak ada cinta yang sabar kalau terus disakiti, bahkan kalau yang disakiti itu seorang namja. Kim Seokjin sudah lelah. Hawa dingin semakin menusuk tubuhnya, namun dia tidak bergeming dari tempatnya. Membiarkan hembusan angin menenangkannya, walau hanya untuk sesaat.

Lalu dia beranjak masuk ke kamarnya, mengambil sesuatu di laci mejanya. Kotak merah yang seharusnya berisi cincin itu berisi kosong. Isinya masih berada di jari manis Soyou. Lalu, Jin kembali ke balkon kamarnya dan melempar kotak itu jauh – jauh.

‘Good bye, past.’

Jin merasa tidak sendirian di kamarnya itu. Sekilas, dia melihat sosok yeoja yang berdiri membelakanginya, menghadap cermin besar di kamarnya. Jin menghampiri yeoja berambut panjang sebahu itu. Dari pantulan bayangannya di cermin, Jin mengenal yeoja itu. Dia Kang Jihyun, mantan yeojachingunya.

Soyou berbalik menghadap Jin, memperlihatkan wajah yang terlihat lebih tirus dan mata yang sembab. Dadanya naik turun dan bahunya bergetar. Tangan kanannya menjulur ke arah Jin. Mulutnya mengucapkan sesuatu di sela isakan tangisnya.

“M..mianhe… Jin-ah. Tolong…. maafkan aku.”, ucap Soyou di sela isak tangisnya. Jin menatap Soyou tanpa ada rasa kasihan. Hatinya membeku. Dia tidak bisa memaafkan yeoja itu, yang telah memaanfaatkan dirinya, dengan mudah. Hatinya tidak akan semudah itu untuk menerima permintaan maaf yeoja di hadapannya itu.

“Aku tidak bisa memaafkanmu.”, ucap Jin. Tangan kanan Soyou yang tadinya terulur sedikit turun. Air muka itu semakin sendu. Namun, kesenduan suasana hati yeoja itu tidak mengundang rasa kasihan pada Jin. Entahlah, mungkin hatinya telah mati untuk yeoja ini.

“Silahkan kamu pergi dari sini.”, usir Jin. Soyou menatap Jin tidak percaya. Kaca – kaca itu kembali muncul di wajahnya. Air muka itu tampak kecewa, sedih, dan segala macam emosi yang dapat merangsang air mata untuk mengeluarkan dirinya tampak nyata di wajah yeoja cantik itu. Kedua tangannya terjulur ke arah Jin.

“Mianhae, Jin-ah….”

“Mianhae, Jin-ah….”

“Mianhae, Jin-ah….”

Jin merunduk, menutup mata dan telinganya. Suara itu merasuk ke dalam kepalanya. Terngiang di otaknya. Soyou belum juga beranjak pergi, masih berekspresi dan mengucapkan kalimat yang sama. Kepala Jin dibuat serasa pecah. Dan….

“PERGI!!”

…. cermin itu pecah seiring dengan gunting yang dilemparkan ke arahnya. Dan seiring itu juga, sosok Soyou menghilang tertiup angin. Kali ini, Jin biarkan amarah menguap. Biarkan hati menenangkan dirinya agar tidak ada bayang – bayang masa lalu mengganggunya, membiarkan masa lalu itu berdiam di sudut ruang hatinya dan tidak akan pernah dia ganggu. Agar masa lalu itu tidak mendatangi dan meminta maaf kepadanya. Dia muak pada permintaan maaf.

Dia memandang ke sekitar dan baru menyadari betapa berantakan kamarnya. Tubuhnya tergerak untuk merapikan kamarnya, dan juga membersihkan serpihan cermin yang menjadi korban amarahnya. Pandangannya teralih ke tempat sampah, tempat semua ‘kenangan yang diabadikan’ bersama Soyou berakhir. Dia mengambil tempat sampah itu dan berjalan menuju tempat sampah di depan rumahnya dan membuang ‘kenangan yang diabadikan’ itu.

‘Selamat tinggal, wahai kenangan.’

*****

Seoul, Januari 2015. 15.00 KST

Salju turun tidak begitu deras. Setidaknya cukup nyaman untuk seorang Kim Seokjin bersantai di taman ditemani dengan cappucino favoritnya. Memandangi butiran – butiran salju yang menumpuk di atas tanah adalah salah satu kegiatan favoritnya, meskipun kebanyakan orang lebih memilih untuk menghangatkan diri di rumah. Terkecuali namja satu itu. Dia lebih menikmati sensasi dingin yang menusuk kulit daripada merasakan hangatnya api dari tungku.

“Jin-ssi.”
Tiba – tiba, sebuah suara yeoja memanggilnya dari arah samping kiri. Jin menoleh dan mendapati Soyou berdiri memandangnya beberapa meter jauhnya. Dia memegang sebuah paying transparan di tangan kanannya dan segelas espresso di tangan kirinya. Sejak mengakhiri hubungannya dengan Jin satu tahun yang lalu, yeoja itu lebih memilih espresso ketimbang cappucino, padahal dulu dia sangat suka cappucino. Jin hanya memandang yeoja itu dengan datar.

“Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Bisa aku berbicara denganmu? Sebentar?”, tanya Soyou dengan suara pelan. Dia masih ingat betul kejadian satu tahun yang lalu. Di taman inilah mereka mengikrarkan akhir hubungan mereka. Jin sama sekali tidak menanggapi ucapan Soyou, hanya memandangi yeoja itu dengan datar.

“Aku ingin meminta maaf padamu. Mianhae, aku tahu aku terlalu memaksa. Terlalu egois. Aku yeoja yang buruk. Mianhae. Jeongmal mianhae.”, ucap Soyou. Suara itu bergetar. Yeoja itu berusaha menahan tangisnya. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan Jin. Dia ingin tampil tegar di hadapan namja itu.

Jin bangkit berdiri dan berjalan mendekati Soyou. “Lalu?”, hanya itu tanggapan singkat dari Jin. Dia memandangi yeoja itu dengan tatapan yang menyiratkan ketidaksukaan yang mendalam pada yeoja di hadapannya itu.

“Aku bodoh. Aku baru sadar aku salah. Aku…. tidak pernah menghargai apa yang telah kamu lakukan untukku. Aku…. mianhae. Maafkan aku.”, Soyou kehilangan kata – katanya seiring dengan mendung yang melanda hatinya. Dia ingat penyesalannya, bagaimana dia terlalu manja dan memanfaatkan cinta dan pengorbanan dari Jin.

Dan Jin juga mengingat itu. Ketika dia selalu berkorban, tapi tidak pernah dihargai. Ketika dia selalu menjadi pelampiasan amarah yeoja di hadapannya itu. Ketika dia tidak pernah dimengerti oleh yeoja di hadapannya itu. Meskipun namja tidak pernah meminta itu, namun bukan berarti mereka tidak membutuhkannya. Dan ketika dia selalu salah dan yeoja di hadapannya itu selalu benar.

“Ada lagi?”, tanya Jin.

“A..ani… aku hanya ingin mengucapkan itu.”, ucap Soyou dengan terbata – bata. Bibirnya kelu seiring dengan dinginnya udara luar. Salju turun semakin deras.

“Tidak akan semudah itu, Jihyun-ssi.”
Dan, selesai sudah. Sebuah kalimat pendek dari seorang Kim Seokjin menutup percakapan mereka. Hati Soyou tertohok mendengar kalimat itu. Dia tahu dia memang salah. Salah besar yang fatal akibatnya. Dia terlalu ‘menggenggam’ Jin selama 2 tahun mereka menjalin hubungan. Wajar Jin merasa lelah. Dan dia harus rela kehilangan apa yang telah dia ‘genggam’ terlalu erat.

Jin berjalan meninggalkan Soyou. Seorang Kim Seokjin yang ramah dan murah senyum telah berubah, hanya kepada Kang Jihyun. Perasaan cinta yang begitu mendalam 3 tahun lalu telah bertransformasi menjadi benci yang juga sama dalamnya. Dia tidak peduli lagi pada yeoja itu. Dan karena benci itu begitu mendalam, maka lebih baik menjauh daripada menyakiti lebih jauh.

Air mata Soyou tak tertahankan lagi melihat punggung Jin yang berjalan menjauhinya. Ini kedua kalinya dia melihat punggung namja itu menjauh. Rasanya sama sakitnya dengan yang pertama. Dia terbiasa dengan kaki yang berlari mendekat ke arahnya selama 2 tahun, bukan kaki yang berjalan menjauhinya.

Jin berjalan dengan langkah yang tenang menjauhi taman itu. Dia siap dan ingin melepas masa lalunya. Dia berjalan mantap meninggalkan taman itu. Dia berjalan mantap, menatap ke depan, dan hatinya telah mantap meninggalkan yeoja itu. Meninggalkan hubungan itu. Sebuah hubungan yang tidak sehat untuk dilanjutkan, jika di dalamnya hanya ada pertengkaran. Hubungan itulah yang dia jalani selama 2 tahun bersama Kang Jihyun.

Payung yeoja itu telah terjatuh ke tanah. Hujan salju membasahi mereka, menjadi saksi dari perpisahan dua anak manusia bernama Kim Seokjin dan Kang Jihyun.

END

Annyeong, author kembali hehe 😀
Gimana menurut kalian ff nya? Kayaknya ff ini agak lebay ya L Mian ne, kalo jelek L
Tanpa banyak bicara karena author lagi males ngomong panjang – panjang, apakah kalian bersedia untuk berkomentar? ^^

Advertisements